Rubrik Santri

DICARI, SAHABAT SEJATI!

Lena Mardiana
Santri Ma’had ‘Âly Baiturrahman Garut

 

Saya teringat sewaktu masih SD dulu. Saya punya sahabat yang sangat baik. Dengan mengatasnamakan persahabatan, dia rela menyalin catatan untuk saya, padahal dia sendiri pemalas. Begitu pula saya. Saya selalu memberitanya bocoran jawaban ulangan. Kadang-kadang kami saling contek PR. Saat itu, saya merasa dialah sahabat sejati. Namun setelah dipikir-pikir sekarang, kayaknya dia bukan tipe sahabat sejati yang sekarang saya cari.
Siapapun pasti membutuhkan sahabat, orang yang bisa jadi teman curhat, minta pendapat, de el el. Sebab, kita adalah makhluk sosial yang tidak mungkin bisa hidup sendiri tanpa bantuan sesamanya. Namun, banyak orang yang tidak lagi peduli pada akhlak sahabatnya, baik atau buruk, mengajaknya pada kebaikan atau kejahatan. Yang penting ada yang mau bersahabat.
Itulah letak kesalahan dalam mencari sahabat. Kita tidak pernah berpikir pengaruh sahabat pada diri kita. Nabi mengumpamakan pengaruh sahabat pada diri seseorang dalam sebuah hadits, “Jika seseorang bersahabat dengan penjual minyak wangi, maka dia akan terkena wanginya. Dan jika seorang bersahabat dengan tukang pandai besi, maka dia akan terkena percikan apinya.” Artinya, jika seseorang bersahabat dengan orang shaleh, dia akan terbawa shaleh; namun jika bersahabat dengan orang jahat, dia akan terbawa jahat. So, kita harus pandai memilah dan memilih siapa yang akan jadi sahabat sejati kita.

Ciri Sahabat Sejati
Salah satu ciri sahabat sejati adalah siap berkorban tanpa pernah mengharapkan balasan. Sifat inilah yang dimiliki para sahabat Nabi. Mereka rela berkorban bagi sesama walaupun mereka sendiri kesulitan. Tentu kita masih ingat ketika Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah. Di malam yang dingin itu dengan lindungan Allah beliau keluar dari kediamannya yang sudah dikepung orang-orang Quraisy. Ternyata beliau tak sendiri malam itu. Ada Ali bin Abi Thalib yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk menggantikan Nabi di tempat tidurnya.
Selain Ali, ada juga Abu Bakar As-Siddiq yang dengan penuh kesetiaan rela menemani Nabi menempuh perjalanan panjang dengan beribu rintangan yang datang menghadang mereka. Saat itu, Nabi yang ditemani Abu Bakar lari dari kejaran kaum Quraisy yang hendak membunuh beliau. Abu Bakar tak pernah berniat untuk mundur dalam menemani Nabi. Bahkan, ketika mereka beristirahat dalam Gua Tsur, Abu Bakar tak pernah terlelap ketika Nabi tertidur. Abu Bakar terus menjaga Nabi. Bahkan dia rela digigit ular dan menahan sakitnya serta tidak berkata sedikitpun karena takut mengganggu tidur Nabi. Subhanallah.
Pernahkah kita memikirkan mengapa mereka rela berkorban dan mempertaruhkan nyawa demi sahabatnya? Apakah mereka mengharapkan balasan seperti kebanyakan sahabat pada zaman sekarang? Tidak, sama sekali tidak. Lalu apa yang mereka cari? “Dan diantara mereka ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah.” (QS Al-Baqoroh [2]: 207). Ya, mereka hanya mengharapkan keridhaan dan pahala dari Allah semata.
Ingat, sahabat sejati tidak cuma bikin hati kita bahagia dengan hiburan atau dukungan dan juga rela berkorban apa saja, melainkan juga bisa meluruskan perbuatan kita yang salah dan selalu mengajak kita kepada kebaikan. Nah, kita harus faham kalau resiko bersahabat adalah siap memberi teguran dan siap ditegur.
Kata Ali r.a., “Sahabat adalah orang yang membuat kita jadi benar, bukan yang selalu membenarkan kita.” Berbeda kan dua orang tadi? Orang pertama adalah tipe orang yang selalu mengamati dan menegur kesalahan kita, sementara kelompok yang kedua adalah sahabat yang selalu “oke-oke saja” atas apa yang kita perbuat. Salah atau benar perbuatan kita, tidak dia pedulikan. Dia tidak pernah menegur dan membenarkan jika kita berbuat salah.

Memilih Sahabat Sejati
Minimal ada dua hal yang harus diperhatikan saat memilih seseorang menjadi sahabat kita: akidahnya lurus dan berakhlakul karimah. Pengaruh sahabat dalam membentuk kepribadian sangat besar. Sahabat dapat mengubah yang rajin menjadi malas, atau sebaliknya. Oleh sebab itu, jangan ambil resiko bersahabat dengan orang yang buruk akhlak dan tidak memiliki komitmen akidah yang kuat.
Resep lain yang diajarkan Rasulullah Saw. Adalah sabdanya, “Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah melainkan yang paling utama di antara keduanya adalah yang paling cinta pada saudaranya.” Maksudnya, untuk mendapatkan sahabat sejati kita dahulu yang harus menjadi sahabat sejati bagi siapapun. Kita harus memberi nasihat, berkorban demi sahabat kita, mencintai serta menyayangi sahabat kita seperti menyayangi diri kita sendiri. Jangan pernah minta balasan apapun. Lakukanlah semua itu tanpa pemrih dan hanya mengharap pahala balasan dari Allah.
Terakhir, jangan memilih sahabat hanya karena wajah serta hartanya. Orang bilang “Teman sejati adalah teman suka duka, tak tergoyahkan harta, kepintaran, kecantikan, bahkan ketenaran. Yang mengikat mereka hanyalah persaudaraan.” Teman tertawa mudah dicari, tapi teman menangis sukar didapati.
***
Dengan belajar bersahabat kita belajar bicara dari hati ke hati, kita menyatu dalam gerak dan arah yang jelas hanya untuk memburu keridhoan Allah semata.
Marilah kita berlomba mendapatkan sahabat sejati yang paling baik untuk menjadi teman hidup kita seseuai dengan kriteria yang Rasul beritahukan melalui para sahabatnya. Dia adalah seseorang yang apabila kita pandang, kita teringat akan Allah, apabila kita mendengar perkataannya, pengetahuan kita tentang Islam bertambah, dan apabila kita melihat akhlaknya, Kita teringat pada kehidupan akhirat.
Marilah kita cari sahabat sejati. Kehadirannya mutlak dibutuhkan. Tanpanya, hidup kita tak akan berarti apa-apa. Namun, jika sampai sekarang kita belum menemukan sahabat sejati, jangan was-was, toh ada ‘sahabat sejati’ yang selalu siap mendengarkan keluhan kita mulai dari masalah kecil hingga masalah besar. Dia pasti akan memberi jalan keluar terbaik. Siapakah dia? Dialah Robbul ‘Izzati, dia ada saat kita ada di mana saja dan siap membantu kapanpun kita butuhkan. Gratis lagi!

 

Cerpen

Bungkam 

Lisnawati

(Alumni Pesantren Persatuan Islam 19 Bentar Garut Amin)

Amin termenung disela-sela keletihannya. Bersama angin siang yang terasa panas membawa alam pikirannya menyusuri setiap detik perjalanan nasib hidupnya.

“Min, kamu harus buktikan pada Ibu, kalau kamu bisa wujudkan harapan bapakmu”.

Amin hanya berdiam mematung di depan jendela ruang tengah saat Ibu tercinta ungkapkan inginnya. Dengan dada yang terasa sempit dan tangannya yang masih terkepal, Amin harus lapang menerima kenyataan dengan keikhlasan.

“Apa Ibu sudah gila, menginginkan sesuatu tanpa ada pengorbanan?!” ungkap amir dengan penuh kekesalan. Namun, suara kalimat itu tak sampai ke telinga Ibunya. Hanya bergumul dalam hatinya saja.
“Mana ada orang yang ingin menjadi dokter tanpa mengikuti sekolah kedokteran terlebih dahulu!? Mana ada seorang pilot yang tidak pernah sekolah penerbangan terlebih dahulu!? Untuk menjadi supir angkot sekalipun harus ikut kursus mengemudi terlebih dahulu sebelum menggeluti profesinya. Sedangkan Aku?! Sudah gilakah Ibuku?!” Kembali Amir menggerutu, namun tak sampai diucapkannya.

“Insya Allah bu, Amin akan selalu mencobanya.” Kalimat bijak itulah yang akhirnya Amin ucapkan.
“Ibu takkan pernah berhenti mendoakannya, nak.”
Amin tersungkur di pangkuan Ibunya, mencoba sembunyikan kekecewaan yang memancing air matanya meleleh. Hanya kalimat istighfar yang berulang kali dia bisikan pada telinga hatinya agar gumpalan kekecewaan itu perlahan memudah. Menelan ludahnya yang kian terasa pahit di tenggorokannya. Dan menyimpan semua laranya dalam bungkamannya.

“Ah, yang bener ‘min?”
Mungkin kalimat seperti itulah yang seringkali menjadi ekspresi rasa heran dari teman-teman sebayanya. Bekerja di sebuah pabrik milit tetangganya, mencetak tanah menjadi balok-balok berbentuk persegi panjangan lalu membakarnya hingga berwarna kemerahan. Maka jadilah bertumpuk-tumpuk batu bata. Dan memeang bukan hal yang salah jika mereka memanggilnya seorang tukang batu bata. Karena memang itulah pekerjaan yang sedang digelutinya. Meski untuk pertama kalinya Amin merasa begitu kecil di hadapan teman-temannya.

“Min adakalanya kamu tidak harus dengarkan semua kata-kata orang lain atau temen-temen kamu.”
Amin tahu apa yang harus dilakukannya. Dan dari kata-kata Ibulah Amin mampu membangun semangat jiwanya. Memang sangat di sayangkan, untuk otak secerdas Amin harus putus sekolah. Membunu paksa semua cita-citanya. Menghentikan dengan segera mimpi-mimpinya. Namun Amin tetaplah Amin yang selalu merasa cukup denga senyum menanggapi segalanya. Dan bungkam selalu menjadi hiasannya.

Bertahun-tahun berlalu. Waktu demi waktu berjalan sempurna. Perubahan demi perubahan nampak jelas terlihat. Ibu yang semakin menua, dan Amin yang kian tumbuh dewasa. Juga kabar teman-temannya yang telah sukses dengan pendidikannya serta jarak yang Amin rasakan antara teman-temannya yang bagaikan tingginya di langit dan rendahnya bumu. Tak mungkin dicapainya.
Sang waktu memang berjalan sempurna. Memberikan dua puluh empat jam untuk berkarya kepada setiap penghuninya. Tak lebih dan tak pernah kurang. Namun, manusia denga segala kelalaiannya mampu mengubah kesempurnaan menjadi sesuatu yang tak bernilai apapun. Dan semua tercermin pada kesuksesan dan kegagalan teman-temannya.

“Bu, maafkan Amin ya. Amin tak bisa membahagiakan Ibu seperti yang lainnya.” Ungkap Amin sarat ketulusan pada Ibu tercinta, satu-satunya orang tua yang masih dimilikinya.

“Rasanya kamu sudah mampu penuhi keinginan bapakmu nak. Dan Ibu telah melihat dengan jelas semua yang telah kamu lakukan. Ibu bangga nah, dan tentu saja dengan bapakmu.” Rangkulan hangat mengalir deras saat Ibu memeluk Amin dengan penuh kebanggaan. Dan dalam bungkamnya Amin tengah menyimpan air mata kebahagiaannya.

***

“Hey, Amin!! Kok bengong saja. Siang-siang begini masih saja melamun. Ayo cepat, masih banyak pekerjaan yang masih harus dikerjakan.”
Amin tersentak dan segera tersadar dari lamunan panjangnya. Nasib hidupnya telah mengantarkan dirinya pada profesinya sekarang ini.

“Ibuku memang tidak gila. Dialah sumber kekuatanku. Percaya atau tidak kini aku telah menjadi seorang “arsitek” yang tanpa pernah mengikuti pendidikan kejuruan. Kuncinya tiada lain adalah kejujuran. Dimanapun kita berada pandai-pandailah membawa diri. Bukan hal yang mustahil jika orang di sekelilingmu memberikan kepercayaan. Aku percaya akan kekuatan doa serta tekad yang kuat dalam mewujudkan sesuatu.” Amin menghela nafas panjang, kemudian berguman kembali.

“Lihatlah karyaku, bangunan mesjid yang megah itu. Akulah yang membuatnya. Dan orang-orang pun menggunakannya untuk bercinta dengan Robbnya. Aku tak pernah menyesal menjadi seorang tukang batu bata. Jika disetiap detiknya aku mampu menciptakan sejumlah karya yang tentunya bermanfaat untuk yang lainnya. Aku bebas dengan apa yang aku lakukan, meski tanpa titel atau segala macam gelar yang menempel pada namaku. Ah…mengapa kini keadaan berbuah terbalik, saat teman-temanku kembali ke kampung halamannya. Untuk sekedar mengajarkan ilmu mereka di madrasah saja rasanya terlalu rendah. Bergaul dengan orang-orang sekitar saja rasanya merendahkan dirinya yang telah bertitel pada nama belakannya. Nampaknya gelar telah berubah menjadi borgol yang mengekang tangannya untuk sekedar berjabatan tangan. Akhirnya diam mengurung diri mengunggu panggilan kerja atas lamaran-lamaran yang dikirimkannya ke setiap perusahaan.

Amir kembali termenung. “Aku tak pandai bicara, namun dalam bungkamku aku berkarya, dalam bungkamku aku berbakti, dalam bungkamku aku berarti, dan dalam bungkamku aku mengabdi. Hanya kepada-Mu. Namun hari ini aku tak mungkin bungkam, mereka tetap temanku. Marilah kembali memaknai detik dari sang waktu yang terus bergulir.

 

 

Rubrik : Opini Santri

PESAN UNTUK SANTRI

Oleh : Arif At-Tamini
(Santri Pondok Pesantren Darul Arqam Garut, Jawa Barat)

Bismillahirrahmanirrahiim. Semoga tulisan ini tidak hanya dijadikan bacaan saja, tetapi dapat dijadikan bahan renungan dan semangat bagi teman-teman kaum santri untuk mengubah negeri ini menjadi negeri yang beradab.

Saudaraku… tulisan ini bukanlah kumpulan motivasi atau cerpen apalagi karya ilmiah, tapi tulisan ini berisi sesuatu yang dapat mengungkap kebutuhan kita. Selama ini pola pikir kita jumud terhadap kondisi umat Islam yang berada di negeri ini.

Saudaraku… marilah kita awali isi tulisan ini dengan menghadirkan dulu sosok bapak reformis negeri kita, yaitu Prof. Dr. H. Amien Rais tentang kondisi umat Islam di Indonesia saat ini yang intinya adalah :
“Coba kita lihat isi rumah kita, barang-barang produksi manakah yang kita pakai? orang asing. Kita lihat ke jalan raya, kendaraan produksi siapakah yang banyak dipakai oleh kita? orang asing. Siapakah pemilik saham-saham terbesar pada gedung-gedung yang berdiri tegak di perkotaan? orang asing. Siapakah yang telah menghancurkan moral bangsa melalui VCD-VCD porno? orang asing. Siapakah para penebang kayu illegal yang telah merusak keseimbangan ekosistem bangsa ini? orang asing. Tapi coba kita lihat rumah-rumah kecil yang berdiri di pinggir sungai yang kumuh yang jika banjir rumahnya ikut hanyut, atau rumh-rumah kecil dibalik gedung-gedung besar perkotaan yang tidak mendapatkan cahaya matahari karena tertutup gedung sehingga kesehatannya terganggu, milik siapakah itu? orang Islam”

Saudaraku… inilah kondisi bangsa kita saat ini, kita sudah dijajah lagi oleh bangsa barat, relakah tempat hidup kita yang begitu subur diambil lagi oleh orang lain?

Teman… tidakkah kita berpikir sekarang Indonesia menduduki jajaran teratas dalam korupsi, negar termiskin dan banyak tertinggal dalam hal SDM. Padahal kita tahu, apa sich yang kurang dari negeri ini? Tanah kita subur, SDA kita banyak, sampai-sampai negeri kita dijuluki tanah surga yang turun ke bumi. Apa yang menyebabkan negera kita hancur?
Krisis moral! Penduduk kita hanya terobsesi pada kehidupan duniawi saja (hubbundunya), para pejabat hanya memntingkan pribadinya saja tanpa memperhatikan akibat dari semua perbuatannya. Contohnya, akibat keputusan pejabat yang merugikan masayrakat kecil, akhirnya kantor-kantor dihancurkan, mobil-mobil dibakar dan sebagainya. Inilah contoh kebobrokan moral bangsa kita yang sudah sistemik dari atas ke bawah. Semuanya bertindak didasrkan pada hawa nafsunya, tanpa akal sehat sama sekali.

Dari dulu bangsa Indonesia berupaya bangkit menuju ke arah yang lebih baik, banyak usaha yang telah dilakukan para pemimpin bangsa untuk mewujudkan hal ini. Mungkin kita pernah membaca atau mendengar perkataan presiden Soekarno yang mengatakan : “Berilah kepada saya 10 pemuda, maka saya akan menggoncangkan dunia ini.” Pemuda yang merupakan tema sentral yang selalu disebut-sebut sebagai jalan dan solusi untuk merubah bangsa ini, tidak membuat kondisi Indonesia membaik dari dulu, malahan makin memburuk dan lebih lagi. Pemuda tidak lagi menjadi harapan untuk membuat Indonesia keluar dari kemelut yang menyakitkan selama bertahun-tahun, malahan pemuda sekarang sudah berkiblat kepada kaum Yahudi, dari mulai makanan sampai fashion. Padahal hukumnya haram kalau kita menurut pada budaya mereka. Dulu Rasulullah sangat enggan berkiblat kepada kaum non Islam. Dalam sejarah diceritakan sebelum Islam mengkiblat Ka’bah, Islam terlebih dahulu berkiblat ke Yerussalem yang notabene merupakan kiblatnya kaum yahudi. Maka, Rasul dalam tiap kali shalatnya ia selalu berdo’a sambil menangis meminta kepada Allah supaya kiblat umat Islam dipindahkan ke Ka’bah tempat millatu Ibrahim. Inilah contoh tauladan Rasul yang mengajarkan kepada kita untuk enggan kepada kaum non islam. Sebagai contoh, coba kita lihat setiap awal tahun baru mereka memaksakan diri keluar malam-malam untuk merayakan tahun baru masehi, padahal tahun Al masih. Demikian juga sudah popular setiap tanggal 14 Februari umat Islam banyak yang merayakan Vallentine day, ini berasal dari mana? Apakah dari Islam? Mungkin ini contoh kecil bahwa umat Islam sudah berkiblat lagi kepada kaum non-Islam.

Belum lagi pemuda sekarang sudah menganiaya fisiknya sendiri, karena tubuh mereka termasuki oleh NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktip). Mereka sudah banyak yang menjadi konsumen PIL SETANini. Akhirnya tubuh mereka hancur karena sifat NAPZA dapat merusak organ-organ tubuh antara lain : dalam otak mengalami kerusakan sel syaraf sehingga dapat menimbulkan pendarahan otak, gangguan jantung, matinya sel ginjal, dalam sum-sum terjadinya gangguan produksi sel darah merah, mata mengalami kebutaan dan penyakit kanker.
Amoral sudah merasuki penduduk negeri ini sudah menjadi racun layaknya virus dan kita wajib untuk mengobati ini semua. Maka kita harus mendapatkan obatnya yang akan menjadi penyelamat bangsa ini. Obatnya tidak lain adalah SANTRI…PESANTREN dan AGAMA.

Teman-temanku para santri di seliuruh tanah air Indonesia. Semua kondisi ini adalah tanggung jawab kita semua. Kita wajib memperhatikan kondisi umat Islam, karena jika kita tidak memperhatikannya, maka kita bukanlah orang Islam. Sebagaiman dalm hadits dikatakan : Man lam yahtammu bi amril muslimiin falaisa minhum” (Barang siapa (orang muslim) yang tidak memperhatikan kaum muslimin, maka dia bukan dari golongan kaum muslimin)

Teman… sudah tercatat bahwa santri merupakan ujung tombak bangsa ini. Ingatlah kita kepada Imam Bonjol atau Pangeran Diponegoro, mereka berdua adalah santri. Hal ini membuktikan bahwa santri dari dulu sudah diharapkan untuk menjadi agent of change oleh banyak kalangan, karena santri merupakan symbol perubah kedholiman yang berusaha untuk terus menegakkan syariat yang haqiqi.

Saudaraku… semua kedholiman ini merupakan tanggung jawab kita, karena Allah SWT menciptakan kepada kita dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki, tapi kenapa hanya satu mulut? Ini menandakan bahwa harus banyak melihat dan mendengar segala penomena, kita harus banyak turun tangan dan mencari kebenaran dariapda banyak bicara.
Teman… pesan terakhir dariku, coba kita bangun kesadaran kita. Negara ini sudah menunggu kedatangan kita semua, jadilah santri yang dapat mengatakan yang benar walaupun pahit.

 

 

3 Komentar

  1. hhhhhaaiiiiiiiiiiiiii,,, q risma!!!!

    ka’ klu skulla d bentar tuh enak gak????????????????

  2. http://www.kedungreja.co.cc/

  3. gimana cara membuat tampilan agar sama kayak wesait ini


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kalender

    • Desember 2016
      S S R K J S M
      « Apr    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari