Pemberdayaan Pesantren

Oleh : Yadi. S

Mendengar kata pesantren jelas sudah tidak asing lagi. Sejak masa kolonial, pesantren sudah dikenal sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam yang melekat dengan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Begitupun dalam sejarah-pembangunan Indonesia, peran pesantren cukup diperhitungkan. Selain sebagai bagian dari basis kehidupan masyarakat menengah ke bawah, juga jebolan-jebolan pesantren perlu mendapat acungan jempol. Sejak awal kemerdekaan sampai sekarang peran-peran para alumni pesantren cukup besar. Begitupun seterusnya pesantren tidak lagi dianggap kampungan atau ‘udik’, tapi pesantren telah tumbuh dan berkembang dan menjadi bagian masyarakat elit. Contohnya, hadirnya pondok modern Gontor, ponpes Suryalaya dan lain-lain.
Namun sayang, belakangan ini, gaung dan aroma pesantren seolah telah redup-menghilang ditelan arus globalisasi. Peran dan fungsi pesantren tidak lagi menggema seperti awal tumbuh dan berkembangnya. Justru sebagian masyarakat telah mengganggap bahwa pesantren bukan lagi lembaga pendidikan yang menjamin terhadap kebutuhan dan tuntutan hidup yang semakin hari terasa sesak di dada. Bahkan, cukup aneh hari ini pesantren seolah-olah dianggap sebagai lembaga pembuangan bagi anak-anak nakal.
Yayasan Kantata Bangsa menerbitkan sebuah buku dengan judul “Pemberdayaan Pesantren; Menuju Kemandirian dan Profesionalisme Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan”. Buku yang terdiri dari 5 bab dan tebal 132 halaman itu, mencoba membahas problematika pesantren masa kini (bab 1), dengan diawali kata sambutan dari Prof. Dr. Azyumardi Azra, mencoba membahas serta menawarkan program pendidikan dan pelatihan pesantren era zaman mondern yang nota bene banyak menuntut para lulusan pesantren bukan hanya dapat menguasai baca kita kuning. Tapi diharapkan sesuai dengan misi visi daurah kebudayaan bahwa para santri diharapkan selain punya kualitas pemahaman terhadap ilmu pengetahuan klasik (kitab kuning), juga para santri diharapkan dapat menguasai segi keterampilan, manajeman kepemimpinan, organisasi dan lain-lain (bab 3). Terlebih para lulusan pesantren dengan ilmu dan bekal dari daurah kebudayaan dapat bersaing di era kompetisi pasar bebas dan globalisasi.
Selain itu juga, yang paling menarik dari buku ini adalah memuat langkah-langkah metode pelatihan (bab 3), mulai dari bagaimana cara seorang pemandu menguasai forum, sampai bagaimana seorang peserta merasa enjoy dalam belajar atau disebut metode pembelajar andragogi. Yaitu metode antara pemandu dan peserta merasa terlibat.
Alhasil, dalam pelatihan daurah kebudayaan kita dapat menemukan metode-metode yang cukup enak bagi seorang santri dalam memahami materi, terutama bagian materi kepemimpinan (94), Islam dan Ilmu Pengetahuan (102), sosiologi (107), dan problem solving (112). Menurut saya, materi-materi yang merupakan dasar itu sangat perlu untuk dipelajari. Terutama bagi santri yang sebagian besar diharapkan akan mampu menjawab persoalan-persoalan masyarakat yang di era globalisasi ini semakin hari, semakin komplek[]

 Judul:

Pemberdayaan Pesantren; Menuju Kemandirian dan Profesional Santri dengan Metode Daurah Kebudayaan

Editor:

Jamaludin Malik

 Penerbit:

Pustaka Pesantren kerja sama dengan Yayasan Kantata Bangsa

Tebal Buku:

xxiv + 132 halaman

 

3 Komentar

  1. Salam Kenal Dari Dunia Buku

  2. Salam kenal juga, mas !!

  3. NI buku salah satu rujukan bacaan saya tentang pesantren.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s