YUDI LATIF : “Sidney Jones Gegabah soal Terorisme”

Lelaki murah senyum ini begitu bersemangat, jelas, dan gamblang ketika diwawancarai reporter DK. Nadanya sangat meyakinkan dan memperlihatkan pengetahuannya yang luas tentang topik yang tengah dibicarakan. Setahun lalu ia berhasil merampungkan disertasinya di Australian National University Canberra. Disertasinya kemudian diterbitkan Mizan bulan September 2005 lalu dengan judul Intelegensia Muslim Indonesia dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke-20. Buku ini dinilai oleh Prof. James J. Fox dari ANU sebagai karya yang sangat luar biasa. Ia katakan, “Karya ini merupakan sebuah studi dengan lingkup dan signifikansi yang luas. Stusi sejenis ini tidak ada bandingannya dalam kelimpahan khazanah literatur tentang Indonesia.”  Komentar senada diberikan oleh Karel Steenbrink dari Utrech University Belanda dan John Legge dari Monash University Australia.

Ketika ditanya soal isi bukunya ia jawab, “Ya (buku) itu sejarah tentang silsilah. Bagaimana proses pewarisan perubahan dalam inteligensia muslim Indonesia; tentang apa mewariskan apa, kelompok apa mewariskan apa, apa yang berlanjut, apa yang terputus, apa yang menunjukan unsur-unsur kontinuitas dan perubahan dalam perkembangan Islam di Indonesia. Kira-kira begitu.” Soal hubungan buku itu dengan terorisme yang akan menjadi topik perbincangan dengannya, ia katakan, “(Dalam buku itu) saya perlihatkan dasar elemen-elemennya, karena terorisme kan satu kerja baru dalam sejarah Indonesia. Meskipun pernah ada aksi-aksi bersenjata seperti DI\TII, tapi itu logikanya jelas diarahkan pada negara itu sendiri, tapi terorisme diarahkan keluar. Geneologinya bisa dilacak dalam perkembangan awal Orde Baru.”   

***

Apa komentar bapak tentang pernyataan Sidney Jones bahwa terorisme ini terkait dengan pesantren? 

Saya kira itu sweeping generalization, generalisasi serampangan. Kalau pun dia menemukan satu pesantren, apakah kemudian seluruh pesantren kemudian bersimpati terhadap terorisme? Jangan-jangan bukan pesantren yang ia temukan, tapi hanya alumni-alumni pesantren tertentu, yang barulah punya aspirasi terhadap terorisme setelah berinteraksi dengan relasi-relasi sosial di luar pesantren, dengan berbagai element, ideologi, dan kekecewaan-kekecewaan sosial yang terjadi.

Sebab, katakanlah misalnya pesantren Gontor. Dari gontor itu orang dari berbagai kecenderungan difasiliasi, diberi hak untuk dididik, diberi hak untuk tumbuh. Dari pesantren itu keluarlah orang-orang dengan kecenderungan yang berbeda. Misalnya Nurcholis majid yang liberal sampai Abu Bakar Ba’asyir. Tapi apakah kemudian hanya karena, misalnya ada alumni seperti Abu Bakar Ba’asyir, kita katakan bahwa semua alumni dan elemen pesantrennya sama seperti itu? (catat: kita tidak menuduh Abu Bakar Ba’asyir sebagai teroris ya).

Yang ingin saya katakan adalah bahwa yang sering terjadi justru aspirasi-aspirasi kekerasan itu muncul ketika orang-orang keluar pesantren. Karena mungkin punya basis-basis kritisisme, basis-basis yang kuat untuk penghayatan terhadap nilai-nilai dasar agama, ketika berhadapan dengan realitas sosial yang terjadi di luar, mulailah di situ tumbuh aspirasi untuk mengembangkan pikiran-pikiran ke arah yang lebih radikal. 

Jadi ini bukan hanya sekedar masalah Agama tapi juga masalah Sosial 

Ya…terjadi tali temali. Agama itu kadang-kadang menjadi yang terdakwa. Jadi seperti yang tadi itu, relasi sosial tidak hanya didefenisikan oleh keagamaan, tetapi juga oleh relasi ekonomi, relasi budaya, dan relasi politik.

Tapi kenapa  banyak orang memakai bahasa Agama? Karena untuk melakukan suatu tindakan, orang itu harus punya pembenaran (justifikasi). Harus ada pembenaran ketika seeorang melakukan kekerasan. Agar bisa dierima oleh masyarakat luas dan supaya bernilai, punya nilai tindakan, biasanya dipakailah bahasa agama. Bahasa  agama dipakai untuk membenarkan ekspresi ketidaksukaannya terhadap realitas sosial yang dihadapinya dalam bentuk kekerasan.  

Di lapangan, apakah pesantren sebagai lembaga yang mengajarkan agama itu ada yang secara khusus mendukung terorisme bahkan mengajarkan ideologi-Ideologi teroris seperti itu? 

Tidak ada satu pesantrenpun yang punya kurikulum untuk mendidik orang menjadi teroris. Tidak ada! Bahwa ada doktrin-doktrin yang skripturalis-fundamentalis, itu mungkin. Tapi kalupun ada pesantren yang mengajarkan ajaran-ajaran teologi yang radikal, itu tidak dengan serta-merta akan memproduksi teroris. Untuk menjadi terorisme, ajaran ini harus bertemu dengan realitas sosial. Sekalipun diajari fundamentalisme, kalau orang itu tidak berinteraksi dengan praktek dan tindakan kekerasan, tidak masuk ke dalam gerakan-gerakan kekerasan, ajaran itu tidak akan ada sambunganya. 

Jadi memang tidak ada pesantren seperti yang disinyalir Sidney Jones?

Nah… itu dia.. Itu terlalu.. Itu namanya pos pro toto, bagian kecil dijadikan statement untuk keseluruhan. 

Kalau memang bukan Pesantren, apakah munculnya terorisme ini bisa dimungkinkan sebagai permainan elite? Munculnya terorisme itu melalui proses pembelajaran yang panjang. Jadi dalam konteks Indonesia, bisa jadi merupakan encounter dari beberapa arus. Mulanya pembentukan awal terorisme memang dari operasioperasi intelijen untuk menyudutkan Islam politik di tahun-tahun 70-an.

Intelijen kita, di bawah pimpinan Ali Murtopo, mencoba mendekati bekas aktivis-aktivis DI\TII yang masih ada di penjara dengan menghembuskan isu bahwa akan ada serangan balik dari orang komunis. Untuk itu kalau mereka mau mempertahankan diri dari serangan itu, pemerintah akan mempersenjatai mereka. Dengan provokasi seperti itu, beberapa orang bekas aktivis DI yang dalam tawanan itu merespon. Mereka itulah yang nanti memunculkan, misalnya, Islam Jamaah, Warman, dan sebagainya. Ini proses pembelajaran awal. Kemudian muncul aksi-aksi kekerasan awal tahun 80-an seperti peledakan Borobudur, Bus, beberapa Gereja. Ini sudah di luar skenario awal. Akhirnya mereka ditangkapi. Beberapa yang bekas-bekas infilteran dari operasi Intelejen ini ditangkapi dan beberapa yang lain tiarap di bawah tanah kemudian melarikan diri ke luar negeri. 

Kalau yang sekarang bagaimana itu?  

Dalam perkembangan berikutnya, bila satu “boneka monster” sudah diciptakan, biasanya master-nya ini tidak mampu mengendalikan seluruh tindakan-indakan selamjutnya. Jadi betapapun yang tadinya memang ada elemen-elemen yang dikerjakan oleh intelejen, si-tuan ini tidak bisa membayangkan implikasi selanjutnya dari tindakan-tindakan seperti ini.

Ketika orang-orang ini juga yang tadinya sudah dididik oleh intelejen untuk melakukan beberapa aksi, lama-lama mereka sudah punya logikanya sendiri untuk membangun jaringan yang tidak selalu bisa dikendalikan oleh aparatur negara, aparatur keamanan.

Inilah bola liar yang menjadi monster-monster baru yang ketika berkoneksi dengan pengalaman, bertemu dengan kekuatan Islam radikal di seberang sana kemudian memperoleh tambahan-tambahan pengetahuan, dari yang tadinya tidak bisa bikin bom menjadi bisa. Alhasil setiap tindakan refresif pasti melahirkan bibit munculnya elemen-elemen radikal dalam masyarakat.

Tapi apakah yang sekarang berarti memang tidak dikendalikan oleh intelejen Indonesia?

Tidak selalu begitu. Sebab, bisa jadi ada beberapa oknum aparatur keamanan yang dipersuasi oleh para oportunis politik tertentu untuk memanfaatkan elemen-elemen kekerasan dalam agama agar terjadi kekisruhan untuk mendeskreditkan lawan politiknya. Itu bisa terjadi, tapi tidak bisa dipastikan. 

Kalau keterkaitan dengan jaringan internasional seperti misalnya dengan Al-Qaida itu bagaimana?

Jadi sebenarnya begini. Ada satu program di TV CBC beberapa waktu yang lalu yang pernah ditulis oleh Ariel Heryanto, dia bilang bahwa beberapa serangan-serangan dan tindakan kekerasan di Indonesia, memang disitu ada aparat yang sengaja mengambil manfaat. Kadang-kadang jika terjadi tindak kekerasan, tidak segera diatasi supaya donasi atau dana-dana yang dialokasikan oleh donor Internasional bisa mengucur terus. Itu salah satu contoh aparat yang memanfaatkan isu-isu kekerasan agama untuk kepentingan pribadi.

Sedangkan kaitannya dengan Al-Qaida, harus kita katakan bahwa unsur-unsur radikal di dalam Islam ini tidak harus dimonopoli oleh Al-Qaida. Bahkan jaringan teroris di dunia juga tidak hanya Al-Qaida. Ada Abu sayyaf yang di Libanon, dan ada banyak lagi. 

Jadi tidak hanya satu jaringan saja?

Mungkin saja ada hubungan-hubungan dengan Al-Qaida, tapi hubungan ini mungkin tidak selalu langsung. Karena, ingat, dalam sistem jaringan terorisme ini adalah jaringan tertutup, terputus. Siapa berkoneksi dengan siapa itu tidak selalu disadari di tingkat bawah, karena jaringan ke atas itu tidak berupa satu hirarki yang mudah dikenali jaringan di bawah.

Kedua, yang tadi itu, kekerasan di tingkat tertentu, misalnya unsur-unsur kekerasan di Irak dan Palestina. Bisa jadi itu merupakan aktivitas kerja-kerja kelompok di sana saja. Tidak harus punya sangkut paut dengan Al-Qaida. Jadi dalam hal itu, hanya semacam kesamaan jenis saja. Dan kesamaan konsen, saya kira. Tidak selalu berkaian langsung. 

***

Yudi Latif yang dilahirkan di Sukabumi 40 tahun silam sempat mondok beberapa tahun di Pondok Pesantren Modern Gontor kemudian melanjutkan studi ke Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad Bandung. Di Bandung, Yudi pernah menjadi ketua Ikatan Pemuda Mesjid Agung Bandung (IKAPMA). Dunia yang kini digelutinya adalah dunia penelitian. LIPI dan CIDES pernah menjadi tempatnya menimba pengalaman meneliti. Sekarang Yudi menjadi Direktur Eksekutif Reform Institute dan Wakil Rektor Universitas Paramadinamulya.   

3 Komentar

  1. Pandangan-pandangannya selalu mecerahkan. Di tangannya, Islam menjadi sepenuhnya rasional. Di usianya yang masih muda, Yudi Latif adalah juru bicara Islam yang paling qualified dan representatif di Indonesia dewasa ini. Ada keterwakilan umat di fikirannya yang tidak ditemukan pada intelektual Muslim lain. Bravo Kang Yudi !!

  2. sya kagum sama bang yudi latif… pemikirannya brilian…

  3. Buku intelegensia Muslim dan Kuasa merupakan bukti keseriusan YL dlm studi islam politik secara sosiologis… Pantas klo bliau yg lbh kita dengar ketimbang org asing yg cenderung gegabah n ngawur (sweeping generalization, sprti katanya). Kita butuh rasionalisasi yg berbeda dan berpihak pada kita. Yudi Latif harus lbh sring dimunculkan d media…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s