TERORISME DAN RADIKALISME KAUM SANTRI (Kilas Balik Sejarah)

Oleh : Tiar Anwar Bachtiar

Ketika muncul lontaran dari Wapres Yusuf Kalla bahwa pesantren-pesantren akan diawasi berkaitan dengan isu terorisme, sebenarnya bukan hal yang baru. Selain dulu semasa Orde Baru Soeharto begitu ketat mengawasi aktivitas dunia pesantren, dalam rentetan panjang sejarah Indonesia ke belakang pun kasus-kasus radikalisme kaum santri sudah menjadi perhatian  penting pemerintah Hindia Belanda. Kebijakan yang diambil sebagai tindak-balas dari gerakan-gerakan itupun hampir mirip: melakukan pengawasan ketat dan tindakan represif terhadap aktivitas dunia pesantren.

Sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20, terjadi rentetan peristiwa radikalisme kaum santri hampir di seluruh wilayah kepulauan Nusantara. Di Sumatera Barat terjadi Perang Paderi di Bonjol (1821-1828) yang didominasi oleh santri-satri Imam Bonjol. Di Banten berkali-kali terjadi perlawanan rakyat terhadap hegemoni Belanda secara sporadis yang dipimpin oleh para kiai. Masing-masing terjadi pada tahun 1834, 1836, 1842, 1849, 1880, dan 1888. Di Jawa Tengah terjadi Perang Jawa di bawah komando Pangeran Diponegoro (1825-1830). Di ujung Sumatra terjadi pemberontakan kaum santri Aceh terhadap hegemoni Belanda (1873-1903). Keempat peristiwa itu oleh Clifford Geertz dalam Islam: Observed Religious Development in Marocco and Indonesia disebut sebagai Santri Insurrection (Pemberontakan Santri).

Selain keempat peristiwa itu, Karel Steenbrink dalam Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 mencatat juga pemberontakan berunsur agama di Banjarmasin pada sekitar tahun 1859 dan 1861 (masing-masing di daerah Muning dan Amuntai). Secara umum perang ini menunjukkan perlawanan rakyat Kalimantan Selatan terhadap Belanda karena ketidakpuasan mereka terhadap berbagai kebijakan Belanda yang tidak menguntungkan rakyat. Pemberontakan ini sendiri tidak terkoordinir. Namun, yang pasti tokoh-tokoh penggeraknya adalah bangsawan setempat disokong oleh elit-elit agama (kaum santri) yang efektif dalam pengerahan masa. Di antara tokoh yang menonjol adalah Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasari.

Akibat terjadi berbagai perlawanan rakyat di berbagai tempat dan terutama digerakkan oleh kaum santri dari pesantren, akhirnya pada tahun 1882 pemerintah Hindia Belanda membentuk Presterraden yang bertugas mengawasi perkembangan pesantren-pesantren. Sekalipun tidak benar-benar dapat meredam gejolak, terutama di Aceh, karena Kesultanan Aceh sampai tahun 1903 masih berada di luar kekuasaan Hindia Belanda, kebijakan ini memperlihatkan kekhawatiran Belanda terhadap pesantren yang ternyata tidak hanya sebagai pusat gerakan religiuos, tapi juga pusat gerakan sosial-politik rakyat.

Tahun 1944 sebenarnya terjadi pemberontakan hebat kaum santri di Tasikmalaya terhadap tentara Jepang. Gerakan ini bahkan benar-benar dimobilisasi dari pesantren, yaitu dari Pesantren Sukamanah Tasikmalaya di bawah pimpinan K.H. Zaenal Mustofa. Pada peristiwa itu, Kiai Zaenal Mustafa sendiri terbunuh.

Persoalannya kemudian, apakah gerakan terorisme yang belakangan terjadi adalah juga tipikal gerakan protes santri di masa lalu karena para pelakunya mengatasnamakan Islam dan kebanyakan dari kalangan santri hingga gerakan pesantren harus diwaspadai? Atau justru sesuatu yang sama sekali berbeda? Memang tidak mudah untuk menentukan sama atau berbeda, namun mari kita lihat satu sudat pandang.

Bila ditelusuri lebih lanjut, radikalisme kaum santri di masa lalu sesungguhnya bukan semata-mata karena dorongan ajaran agama yang memerintahkan mereka melakukan tindak kekerasan. Unsur-unsur agama di dalamnya memang ada seperti doktrin “Perang Sabil” atau “Jihad Melawan Kafir” yang selalu menjadi pengobar semangat perlawanan. Akan tetapi, yang terutama membangkitkan perlawanan-perlawanan itu justru penindasan yang dilakukan oleh pihak Belanda (dan Jepang).

Ambil contoh kasus-kasus di Banten yang sangat massif terjadi di mana-mana. Salah satunya pemberontakan tahun 1888 yang diteliti secara mendalam oleh Sartono Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888. Menurut Kartodirdjo faktor agama hanya menjadi faktor legitimatif yang membuat para pemberontak semakin merasa mantap untuk melakukan perlawanan. Faktor terbesar yang menjadi pemicu adalah ketertindasan mereka secara sosio-ekonomi dan politik yang memunculkan keresahan di tengah masyarakat. Misalnya kebijakan cultuurstelsel yang sangat merugikan ekonomi mereka, semena-menanya elit lokal yang disokong pemerintah Hindia Belanda hingga membuat posisi mereka menjadi semakin terjepit. Pada saat yang sama terjadi bencana alam yang membuat ekonomi mereka semakin sulit. Itulah di antaranya yang menciptakan keresahan hebat di tengah masyarakat.

Sangat wajar bila kemudian keresahan-keresahan itu meledak menjadi kerusuhan di mana-mana, terutama pemberontakan yang dilamatkan kepada para penguasa. Tindakan ini mendapatkan pembenaran dalam ajaran agama berupa kemestian nahyi munkar sengan segala bentuknya. Dari sisi etik, tindakan semacam ini sesungguhnya sesuatu yang wajar dan—sepertinya—harus dilakukan untuk menghentikan kesewenang-wenangan penguasa, sekalipun dari perspektif penguasa sangat mengganggu. Ketiadaan perlawanan justru menjadi preseden buruk dengan akan semakin sewenang-wenangnya pihak penguasa. Dari sisi ini apa yang dilakukan kaum santri itu justru mesti mendapat pujian karena mampu menggerakkan perlawanan terhadap penguasa zhalim-represif. Persoalan secara strategis bisa tidak tepat, itu masalah lain.  

Bom-bom yang terjadi belakangan ini apakah sungguh-sungguh mencerminkan keresahan rakyat? Inilah yang menjadi tanda tanya besar. Dunia pesantren adalah dunia rakyat. Bila mereka bergerak, maka yang akan digerakkan adalah masa rakyat. Perhatikan kasus PAM Swakarsa pada masa Presiden Habibie dan Pasukan Berani Mati (PBM) pada masa Presiden Abdurrahman Wahid yang disokong oleh beberapa kiai dan pesantren. Apapun motifnya, bila itu menyangkut pesantren, maka dia akan disokong oleh masa rakyat yang dapat dengan mudah digerakkan. Sementara peristiwa bom di berbagai tenpat itu terkesan sangat ‘elitis’. Sekalipun beberapa pelaku berasal dari kelompok santri, namun sama sekali tidak melibatkan masa rakyat. Pesantren adalah bagia dari rakyat, dia pasti akan melibatkan rakyat. Dari sini agak jelas terlihat bahwa gerakan ini sejatinya bukan tipikal gerakan protes kaum santri atau gerakan yang digerakkan dari pesantren. Teror-teror semacam itu, jauh dari tipikal gerakan protes dari dunia pesantren. Jadi, sangat tidak beralasan bila kemudian pesantren menjadi sasaran tembak atas kejadian-kejadian peledakan bom belakangan ini. Wallâhu A‘lam.  

*) Staff pengajar Pesantren persatuan Islam 19 Bentar Garut dan Mahasiswa Pascasarjana Sejarah Universitas Indonesia

4 Komentar

  1. assalamu alaikum
    mungkin ada kawan-kawn yang masih kenal saya. saya alumni Bentar 1999
    Kang Tiar dimana sekarang?

    Salam
    Arif Ramdan

    • di banjar kang janten orang banjar ayeuna mah……heheheheheehhehe…

  2. Mau Cheat RF ??????

    Ni mA GuA Ketua Grandongz……………………..

    Hub 0809123007
    Atau Hub Wakil Grandongz Andi Optimus ………….Grandongz

  3. yg punya cheat rf boleh bagi2 ke bukaduh@yahoo.com

    reward……


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s