Pesantren Tanpa Gedung

Nama pesantren selalu identik dengan daerah pinggiran, karena pesantren hampir bisa dipastikan mempunyai bangunan yang biasa digunakan untuk proses belajar dan mengajar. Paling tidak, bangunan tempat sang kiai tinggal, yang biasanya dipakai untuk belajar dan mengajar. Di Jakarta, pesantren yang mempunyai gedung dan bangunan juga ada di beberapa tempat, namun biasanya pesantren tersebut mempunyai akar sejarah yang panjang. Kemudian programnyapun sebagaimana biasa. 

Namun jika di sebut pesantren tanpa bangunan, tentu saja akan membuat orang bertanya-tanya. Apakah layak disebut sebagai pesantren jika seseorang mempelajari ilmu agama, tanpa adanya fasilitas, minimal bangunan atau gedungnya. Dalam tradisi lama, pertanyaan ini tentu saja layak diajukan. 

Pertanyaan seperti di atas, bagi Zainal Muttaqien, pembina pesantren Bina Insan Kamil (BIK), merupakan pertanyaan dalam “konsep lama”. “Sebab substansinya adalah penguasaan terhadap ilmu agama dan pengamalan tentang agama itu sendiri” paparnya.  

Meski demikian, Zainal tidak menafikan, akan perlunya tempat (bangunan) untuk proses belajar mengajar. “Namun dalam konteks Jakarta, jika alur pikirnya, harus ada bangunan dulu, baru kemudian pesantren, pasti akan keteteran,” menurutnya. Karena itu, untuk proses belajar mengajar di pesantren (BIK) banyak menggunakan masjid, yang di Jakarta biasanya dikunci sehabis acara shalat, untuk dioptimalisasikan dengan menggunakannya sebagai tempat belajar mengajar. 

Zainal sendiri mempunyai gagasan, jika ditaqdirkan mempunyai rizqi, maka prioritas yang perlu dilakukan adalah membuat pusat bisnis, pusat pelatihan, perpustakaan dan masjid. “Hal ini akan berimplikasi pada peningkatkan kesejahteraan para guru, perbaikan sistem agar lebih Islami dan operasional pesantren agar lebih maju,”jelasnya.  

Apa yang dipikirkan Zaenal tentang pesantren memang tak seperti lazimnya. Pesantren menurutnya tak boleh lepas dari perannya dalam pembinaan masyarakat secara langsung. Fenomena para mubaligh yang datang berceramah, kemudian pulang setelah diberi amplop, menurutnya jadi beban bagi masyarakat. Ustadz atau mubaligh seharusnya justru memberi lapangan kerja bagi masyarakat. Keberadaan ustadz seharusnya sebagai pemecah masalah (problem solver), bukan malah bagian yang menciptakan masalah (problem maker).  

Bertitik tolak dari pemikiran di atas, maka Zainal membuka pesantren yang lebih berorientasi pada kaderisasi da’i atau juru dakwah yang mandiri berakhlak mulia berwawasan luas dan memahami dinamika sosial. Tak hanya itu, “seorang da’i juga harus mampu mewujudkan  masyarakat yang religius, beradab, maju dan berkeadilan,” harapnya. 

Untuk mewujudkan harapan di atas, maka program yang dilakukanpun terbilang langka. Di pesantren BIK mahasantri (istilah yang biasa digunakan untuk santri) selain ilmu agama, juga ditekankan untuk menguasai ilmu kemasyarakatan (sosiologi), psikologi, kewirausahaan, dan ekonomi syari’ah. Tak hanya itu,  mahasantri juga dilatih untuk membina masyarakat dalam program pengabdian sosial.  

Dalam pelaksanaan proses belajar dan mengajar untuk menguasai hal-hal tersebut di atas, maka faktor kedisiplinan sangat ditekankan. Menurut Zainal, “mahasantri yang tidak hadir dalam acara perkuliahan lebih dari lima kali, maka akan diberi sangsi pecat!,” tegasnya.  

Dalam praktek kewirausahaan, seorang mahasantri mesti mencapai 240 poin selama dua tahun. Satu poin nilainya seratus buku, berarti harus mencapai omset 24 juta dalam 2 tahun, berarti 1 juta perbulan omsetnya. Kenapa satu juta? Mungkin untuk ukuran bisnis itu terlalu kecil, karena satu juta dalam satu bulan, tapi untuk sebuah praktek pembelajaran itu sudah cukup lumayan. “Diharapkan ketika mereka mulai praktek bisnis, mereka terangsang, terdorong untuk menjadi seorang busines man,” katanya. 

Adapun target dari pengabdian sosial, menurut Zainal, mahasantri kira-kira bisa aktif dan membina masyarakat, LSM, karang taruna dan lain-lain. “Pokoknya mereka tidak boleh pasif, mereka harus proaktif mendatangi  masyarakat membentuk kelompok untuk terlibat dalam proses dakwah,” tegasnya. 

Untuk mencapai tiga hal tersebut di atas, maka metode pengajaran yang dilakukan melalui berbagai metode. Metode pengajaran ada yang dalam bentuk kuliah, ceramah, diskusi, paper, kelompok, dan training (semi pelatihan). Adapun waktu belajar dan mengajar terbagi tiga waktu pagi, siang dan sore. Sedangkan hari belajar yang efektif senin sampai kamis, hari jum’at libur, sabtu pengajian umum.  

Adapun staf pengajar, terdiri dari orang-orang yang memang spesialis di bidangnya. Untuk pelajaran bahasa Arab staf pengajar umumnya lulusan LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), untuk pelajaran sosiologi menggunakan dosen dari UI dan yang terkait dengan masalah kewirausahaan biasanya para pembina adalah pelaku bisnis.  

Dari program di atas jelas bahwa pesantren BIK memberikan program yang seimbang antara kajian keilmuan, kemandirian sikap dengan upaya menjadi wirausahawan dan tanggung jawab sosial, dengan melakukan pembinaan terhadap masyarakat. Dengan kata lain, mereka belajar agama, tapi agama itu yang hidup dalam dinamika sosial. Mereka juga diberikan pemahaman tentang aspek perubahan sosial, supaya mereka paham bagaimana peta masyarakat miskin, bagaimana masyarakat perkotaan, bagaimana kaum marginal dan seterusnya. Demikian juga dengan berwirausaha, mereka dilatih untuk mempunyai fanny (seni). Jadi berbisnis itu bukan hanya teori, tapi merupakan seni, seni melatih kejujuran, melobby orang dan lain sebagainya.  

Dari program yang ada ini diharapkan akan lahir da’i yang mandiri, dimana mereka tidak hidup dari jama’ah, tetapi menghidupi jama’ah. Tidak mendapat amplop dari masyarakat, tapi membuka lapangan pekerjaan buat masyarakat. Sedangkan secara sosial, mampu memahami perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, sehingga menjadi daí yang tidak ketinggalan jaman. Dalam bidang kewirausahaan, maka da’i akan mempunyai jaringan (networking) ekonomi  ummat yang selama ini dikuasai oleh orang lain. 

“Dengan program tersebut, pelan namun pasti, umat pada umumnya, pesantren pada khususnya akan kembali memainkan peran yang penting dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya. Semoga.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s