Pesantren Bangkit, Pesantren Kembali!

Berbicara mengenai pesantren, jelas bukan soal sederhana. Sejak awal tumbuh sampai sekarang, pesantren telah memberikan banyak kontribusi bagi pembangunan dan perkembangan bangsa Indonesia, baik dalam dunia pendidikan, ataupun dunia politik, pondok pesantren telah banyak terjun. Namun, sejak begulirnya isu bahwa pesantren sebagai sarang teroris, nama besar pesantren pun seolah pudar dari perannya. Padahal sebelumnya nama pesantren cukup disegani sebagai basis pergerakan Islam.

Sebut saja perguruan Thawalib Padang Panjang telah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Dalam pergerakannya tidak bisa dianggap enteng. Bahkan telah menelorkan ilmuwan sekaligus budayawan sehebat Buya Hamka. Demikian juga, Pesantren Tebuireng, Jombang, Darussalam Gontor, Buntet Cirebon, dan lain-lain.

Selain itu, pesantren, dengan karakter dan ciri khasnya telah banyak menelorkan orang-orang besar di Republik ini, sebut saja Hidayat Nurwahid, Din Syamsuddin, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Musthafa Biri (Gus Mus). Mereka adalah alumni-alumni pondok pesantren yang disegani. Bahkan tak sedikit karya-karya seperti kitab kuning atau buku-buku telah banyak menjadi bahan rujukan untuk dunia keilmuan.

Namun, dengan santernya isu terorisme atau pesantren sebagai tempat pembuangan anak-anak nakal, eksklusif, dan lain-lain. Sehingga citra pesantren terkesan buruk, marjinal dan terbelakang. Kalah dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Nah, pada kesempatan kali ini Buletin Daurah Kebudayaan akan mencoba (mudah-mudahan) mengklarifikasi anggapan miring terhadap pesantren selama ini: sarang teroris, sarang kekerasan, seram dan lain-lain.

Beberapa waktu yang lalu Buletin DK sempat melakukan sejumlah perjalanan ke beberapa pesantren di Indonesia. Di antaranya, ke ponpes Cipasung Tasikmalaya, Ar-Risalah Ciamis, Salafiyah Safi’iyah Tebuireng-Jombang, Perguruan Thawalib Padang Panjang, dan Miftahul Huda Manonjaya-Tasikmalaya.

Maksudnya selain program yaitu penelitian tentang  “Kepimpinan Kyai Dan Peran Publik Pesantren”, juga sebagai bentuk kepedulian dengan memantau keadaan pesantren. Pesantren masih merupakan tempat yang indah, bersahabat, merakyat, jauh dari situasi kekerasan, bahkan sebenarnya pesantren adalah sebuah lembaga yang peacefull society.

Hasilnya, ada yang merespon secara baik ada juga yang menolak dengan alasan, bahwa kunjungan kami ada kaitannya dengan misi dan isu terorisme yang baru-baru ini merupakan sentral yang ditujukan kepada pesantren.

Ada apa dengan pesantren? benarkah pesantren seram, menakutkan dan eksklusif? Dengan pertanyaan ini, beberapa tokoh pesantren pun berbicara lantang dan penuh semangat.

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, Ulujami, Jakarta KH. Mahrus Amin, dengan tegas mengungkapkan tidak setuju bahwa pesantren dianggap sebagai lembaga yang mencetak kader teroris. Bahkan beliau menjelaskan kalaupun isu itu benar, pesantren hari ini harus segera bertindak dan berbenah diri. Meningkatkan mutu pendidikan—pengajaran, kemandirian pesantren guna penggalian dana, dan tidak kalah pentingnya adalah bahwa untuk kelanggengan pesantren di masa yang akan datang, pesantren harus terus-menerus mencetak kader sebanyak-banyaknya, agar pengabdian pesantren kepada umat terus meningkat. Sehingga anggapan pesantren eksklusif, kolot itu tidak lagi jadi alasan.

Lain lagi dengan komentar KH. Syukron Makmun, pimpinan Pondok Pesantren Darurrahman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Beliau mengungkapkan seputar kegusarannya bahwa pesantren dianggap sebagai sarang kekerasan. Pesantren merupakan lembaga yang punya kelebihan. Selain selalu menanamkan akhlakul karimah, juga satu-satunya lembaga yang tetap mempertahankan tradisinya. Maka dari itu, untuk mengcounter isu-isu yang memojokan pesantren, pesantren harus selalu siap waspada dan terus berbenah diri. Mulai dari fasilitas, pelayanan sampai ke hal-hal yang menyangkut tatanan sosial masyarakat.

Untuk itu, “saya sangat setuju kalau pesantren merupakan tempat yang sejuk, aman, damai, ramah, pengayom dan pembimbing masyarakat. Karena pada prinsipnya bahwa pesantren lahir dari masyarakat, dan untuk masyarakat”. Jadi, pesantren harus kembali kepada masyarakat sebagai basisnya”. Ujar pimpinan ponpes Assalam Sukoharjo, Jawa Tengah. 

Reporter : Dwi Budiman. Laporan : Yadi S

1 Komentar

  1. gmna supaya kita lebih dekat dengan allah


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s