MEMBANGUN KEBUDAYAAN BANGSA

Oleh : Mulyadi M Phillian

Mochtar Pabotingi, dalam Jurnal Ulumul Qur`an Nomor 2, Vol. V tahun 1994 menulis artikel berjudul pembangunan kebudayaan sebagai masalah politik dan ekonomi.  Dalam salah satu proposisinya Pabotingi menyatakan, “Karena kebudayaan bermula dan selanjutnya merupakan kumulasi abstraktif dari rangkaian praktek individual, maka suatu bangsa yang ingin mengembangkan kebudayaannya harus pula mengembangkan pendidikan warganya secara maksimal. Ia harus menyediakan peluang yang sebaik-baiknya bagi terlaksananya praktek-praktek yang diinginkan demi mempertinggi harkat kemanusiaan dan memperbesar peluang kelangsungan hidupnya. Untuk itu prioritas alokasi sumberdaya politik dan ekonomi harus ditujukan kepada penyiapan sumberdaya manusia serta penyediaan syarat-syarat material yang mengefektifkan usaha pendidikan…”

Pembangunan kebudayaan merupakan satu hal yang sangat strategis bagi perjalanan sebuah negara-bangsa. Akan tetapi pembangunan kebudayaan tersebut bukanlah masalah yang sederhana. Ia memerlukan hardware dan software yang cocok bagi sebuah negara bangsa yang sedang bergerak ke masa depan. Pembangunan kebudayaan merupakan upaya sadar yang dilakukan secara kolektif untuk mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan dalam sebuah bangsa. Tujuan mulia ini akan dapat tercapai apabila orientasi pembangunan diarahkan untuk menghormati nilai-nilai luhur kemanusian. Dalam konteks agama disebutkan bahwa manusia dilahirkan sebagai makhluk yang memiliki kelebihan akal budi yang memungkinan ia menjadi lebih sempurna dan dapat mengkreasi dunianya bergerak ke arah kemajuan dan menjadi lebih civilized.

Untuk mencapai pembangunan kebudayaan yang humanis tersebut, maka perbaikan pendidikan merupakan cara yang sangat efektif. Pendidikan harus diarahkan untuk mendorong terjadinya perubahan dan pembaruan ke arah yang lebih bermartabat. Pada tataran fraksis, maka pendidikan sewajarnya diarahkan untuk membangun unsur-unsur kejiwaan yang akan menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter bangsa. Ini menjadi sangat penting di tengah terkikisnya nilai-nilai substantif dalam kehidupan yang serba hedonistik.

Di Indonesia, salah satu institusi yang memainkan peran strategis dalam pendidikan dan pengembangan kebudayaan adalah pesantren. Pesantren telah hadir sejak zaman pra-kolonial dan merupakan institusi yang berperan dalam pencerahan alam pikir masyarakat. Sebelum era kolonial, pesantren berupaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, kesadaran budaya dan melakukan perubahan kultur masyarakat secara bertahap. Pesantren misalnya terus mengajarkan tradisi baca-tulis, tangga perdana untuk menerobos kejumudan berfikir. Dengan pengembangan tradisi baca tulis tersebut, pesantren sebenarnya berupaya untuk mengasah daya nalar untuk mengembangkan potensi rasionalitas dalam kehidupan masyarakat.

Pada zaman kolonial, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang juga berperan sebagai pusat transformasi spirit perjuangan melawan tirani penjajah. Tiadanya penghormatan terhadap nilai-nilai humanisme, merupakan hal yang sangat bertentangan dengan kebudayaan. Dalam konteks inilah kemudian, pesantren terus berupaya mengembangkan potensi kebudayaan masyarakat agar menjadi lebih bermartabat. Di sinilah adanya titik temu antara kebudayaan dan pendidikan, yang keduanya mengemban misi nubuwah dalam mendorong terwujudnya negara bangsa yang civilized tersebut.

Oleh karenanya, pada era ini, agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka kebijakan pendidikan -termasuk pendidikan pesantren- harus terus dimoderasi agar mampu merespon perkembangan modernitas. Perkembangan modernitas bukanlah hantu yang menakutkan sehingga kita membuat benteng agar tidak terkontaminasi dengan “nilai luar” yang kita anggap berbahaya. Walaupun modernitas membawa unsur-unsur yang berbeda dengan nilai-nilai tradisi, namun ia juga memberikan tawaran solutif atas persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Karena itu, perlu suatu upaya untuk memahamkan hal ini kepada masyarakat, khususnya kaum cendikiawan masa depan. Yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai yang bersifat substantif tersebut dapat terwujud di tengah arus modernisasi yang bergerak dengan cepat. Pembangunan kebudayaan, merupakan investasi jangka panjang yang mesti dilakukan secara bertahap.  

Di samping pendidikan, keberhasilan pembangunan kebudayaan kita, seperti yang dikemukan oleh Pabotingi, juga akan ditentukan oleh dukungan politik dan ekonomi nasional. Orientasi kebijakan politik dan ekonomi seyogyanya berupaya mendorong terciptanya keseimbangan, antara pembangunan “jiwa” dan “badan”. Pembangunan badan menjadi penting untuk menunjukan kemampuan kita yang dapat diukur secara kuantitatif. Kesempurnaan jiwa akan terlihat lebih berwibawa ketika dipadukan dengan kekuatan yang bersifat ekonomis. Ke arah inilah pembangunan kebudayaan kita bergerak. Semoga

Penulis adalah Peneliti pada Kantata Research Indonesia, Jakarta.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s