Ghibah Itu Nggak Baik!

Oleh : Reni Kurnaesih  

Santri Ma’had Ali Baiturrahman, Garut

“Lisan lebih tajam daripada pedang”. Istilah yang sudah tak asing lagi terdengar oleh telinga kita. Tapi sudahkah kita menguak rahasia di balik ungkapan itu? Kenapa Al-Quran mengabarkan bahwa “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan?” Kenapa juga Rasul Saw menyuruh kita diam, jika kita tidak bisa bicara yang baik?

Lisan adalah sesuatu yang sangat vital dalam kehidupan sehari-hari manusia. Dengan lisan manusia, seseorang bisa mengkomunikasikan perasaannya pada orang lain. Dengan lisan pula manusia bisa saling memahami satu sama lain. Ringkasnya, lisan adalah media paling efektif untuk bisa bersosialisasi dengan baik.

Namun demikian, itu bukan berarti lisan tidak mempunyai efek negatif sama sekali. Pada kenyataannya, lisan seringkali tergelincir pada hal-hal yang justru membahayakan. Lisan bisa mengubah hubungan baik menjadi buruk. Lisan juga acapkali menjadi pemicu perkelahian, bahkan sampai mengakibatkan terjadinya pembunuhan. Lebih dari itu, lisan bisa menimbulkan pemiliknya masuk ke jurang yang paling ditakuti segenap insan, yaitu neraka. Na’uzubillah.

Karena begitu sering lisan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, maka potensi kemaksiatan yang ditimbulkannya banyak pula. Bagi orang yang tak memiliki dasar agama yang baik, lisan justru bisa jadi benalu dalam kehidupannya karena hanya menimbulkan kemadharatan, baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain.

Salah satu kemaksiatan lisan yang kerap terjadi pada masyarakat kita adalah ghibah. Ghibah adalah membicarakan kejelekan orang lain yang tentu sangat dibenci oleh orang yang dibicarakan, jika ia tahu. Ini selaras dengan ungkapan Nabi saw:

Ghibah adalah kamu mengumpat orang lain dengan sesuatu yang dibencinya. (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad, Ad-Darimi)

Allah bahkan mengibaratkan orang yang ghibah mengenai aib saudaranya bagaikan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri (QS Al-Hujurât [49]:12). Jika kita betul-betul memperhatikan hal itu, maka kita akan menyadari betapa kejamnya kita saat menggunjing saudara kita. Maka pantas jika Nabi lebih merekomendasikan untuk diam, kalau tidak bisa bicara baik. Selain itu, ketika kita membicarakan aib orang lain, pada saat yang sama sebenarnya kita sedang merusak kehormatannya. Hal ini sangat bertentangan dengan titah nabi yang justru mengharamkan umat Muslim saling merusak kehormatan satu sama lain. Sabda Nabi Saw:

Seorang Muslim atas Muslim yang lain diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (Al-hadits)

Namun demikian, ternyata penyakit yang satu ini masih sangat sulit dihilangkan. Ghibah seolah menjadi “bumbu penyedap” dalam setiap menu perbincangan. Tanpa “bumbu” ini pembicaraan seseorang seakan menjadi sangat tidak menarik

Saya heran sekaligus sedih, ketika secara tidak sengaja mendengar obrolan beberapa ibu pengajian yang baru saja keluar dari majelis ta’lim yang diikutinya. Mereka bukan membicarakan materi pengajian, juga bukan membicarakan bumbu masakan. Mereka justru tengah asyik membicarakan aib sang penceramah yang terus dikomentari dari ibu yang satu ke ibu yang lain. Hal itu seolah-olah menjadi “menu” yang asyik untuk disantap dan dibawa sebagai “oleh-oleh” ke rumah. Astaghfirullah Adzim

Ironis, memang. Kemaksiatan ini masih kerap terjadi di kalangan ahli pengajian. Mereka seakan tak sadar bahwa “bumbu penyedap” ini pada akhirnya justru akan menimbulkan penyakit bagi para “pelahapnya”. Hal ini sangat mungkin diakibatkan oleh pengetahuan kita yang sangat minim tentang ghibah. Oleh karena itu, di sini sedikit diungkap permasalahan ghibah, mulai dari faktor pendorong melakukan gibah, cara menghindarinya, serta hal-hal yang mesti kita lakukan apabila kita terlanjur melakukannya.

Ada banyak faktor yang bisa mendorong seseorang melakukan ghibah. Di antaranya adalah karena ingin dianggap teman sejati. Maksudnya, ketika teman kita sedang membicarakan aib orang lain, kita tak mampu untuk menghentikannya. Bahkan mungkin kita cenderung  menanggapi dan membenarkannya karena takut disebut teman tidak “solider”. Ya masuk akal, memang. Seringkali kita dihadapkan pada permasalahan dilematis seperti ini. Di satu sisi kita tahu bahwa ghibah itu sebuah dosa, tapi di sisi lain kita pun tak ingin kehilangan pengakuan dari teman kita. Akhirnya, kita lebih sering memilih untuk mengikuti alur pembicaraan tanpa peduli dengan dosa yang mungkin diakibatkan karenanya.

Faktor lainnya adalah ingin mengangkat diri sendiri dengan cara merendahkan orang lain, padahal belum tentu orang yang membicarakan itu lebih baik dari yang dibicarakan. Atau bisa jadi seseorang melakukan ghibah karena dengki pada orang yang bersangkutan. Selain itu, ghibah seringkali dilakukan supaya orang yang dijadikan objek bisa jadi bahan tertawaan hingga semua orang terlihat bahagia dengan cemoohan itu. Lantas bagaimana cara menghadapinya? Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kita terhindar dari dosa ini. Pertama, kita harus mengetahui dan menyadari bahwa gibah hanya akan mendatangkan murka Allah semata, dan jika itu benar-benar terjadi, maka celakalah kita. Dengan begitu kita akan merasa takut dan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhinya. Kedua, dengan menyadari bahwa kita sendiri mempunyai aib yang apabila disebarluaskan akan sangat terasa menyakitkan. Kalau kita tidak rela, aib kita disebarluaskan, orang lain pun akan merasakan hal yang sama. Dalam hal ini, alangkah bahagianya orang yang sibuk dengan aibnya hingga nyaris tak punya kesempatan untuk memperhatikan aib orang lain.

Lalu, jika kita sudah terlanjur melakukan gibah, ada beberapa hal yang mesti kita lakukan sebagai kifaratnya. Pertama, menyesali perbuatan kita itu serta bertaubat disertai tekad yang kuat untuk tidak mengulanginya. Selain itu, kita bisa jujur kepada orang yang kita bicarakan dan memintanya untuk memaafkan kita jika kita mampu. Tapi jika kita anggap dengan cara itu malah bisa merusak hubungan baik, ini tidak usah dilakukan. Hal lain yang bisa kita lakukan adalah dengan membicarakan kelebihannya atau menyanjungnya setelah kita mengghibahnya. Juga jangan lupa untuk minta ampun kepada Allah atas dosa kita dan dosanya.  

Mudah-mudahan pemaparan singkat ini sedikit banyak bisa membuat kita jera untuk menambahkan “bumbu penyedap” yang membahayakan ini ke dalam menu pembicaraan kita. Seyogianya kita saling mengingatkan satu sama lain agar terhindar dari dosa ini, mengingat kita adalah manusia yang tak pernah luput dari dosa. Jadi, dalam hal ini unsur saling mengingatkan pun sangat diperlukan. Semoga kita lebih bisa menjaga lisan kita dengan baik sehingga tidak menjadi senjata yang justru membahayakan kita. Wallahu A’lam.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s