Umat Islam dan Tantangan Globalisasi

Oleh: Nanang Isom

Sekretaris Pondok Pesantren Al Mukhlishin, Bogor, Jawa Barat

Globalisasi sebagai suatu proses pertukaran nilai budaya yang mendunia telah mempengaruhi kehidupan umat manusia tanpa mengenal batas-batas demografi suatu negara.  Proses yang terjadi bersamaan dengan dahsyatnya perkembangan informasi dan transformasi peradaban lewat modernisasi ternyata juga melahirkan ketidakpuasan masyarakat modern.

Di samping mendatangkan hal-hal positif, globalisasi sepertinya juga menumbuhkan kecenderungan baru masyarakat terhadap sesuatu yang bersifat kebendaan (materialisme), mementingkan diri sendiri (individualisme), kenikmatan badaniah (hedonisme) serta hasrat untuk menguasai yang lain dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karenanya, sering terjadi pelanggaran terhadap unsur-unsur normatif yang telah menjadi anutan nilai masyarakat.  

Apa yang terjadi dalam kasus pelecehan yang dilakukan seorang kartunis barat terhadap Nabi besar Muhammad SAW merupakan salah satu contoh di mana penghormatan terhadap perbedaan ternyata masih sangat lemah. Dan pelecehan tersebut telah mengundang kemarahan umat Islam di seluruh dunia dan ini tentu saja sebagai akibat dari terbukanya kran kebebasan pers yang amat lebar sehingga menjadi tidak terkendali. Padahal dalam konteks ini, kebebasan berekspresi seharusnya juga diikuti dengan sikap penghormatan terhadap nilai dan ajaran agama komunitas lain sehingga tercipta sikap toleransi yang tinggi pada tataran global.

Pemuatan gambar baginda Nabi Besar Muhammad SAW oleh media masa Barat sesungguhnya juga merupakan issu teroris gaya baru dan merupakan tantangan umat Islam di era globalisasi. Gambar tersebut telah menodai rasa kecintaan dan keyakinan umat Islam di seluruh dunia. Dengan sikap kecintaan tersebut, umat Islam justru akan rela mengorbankan jiwa dan seluruh kepentingan hidupnya. Oleh sebab itu, kasus penerbitan penghinaan Nabi Besar Muhammad SAW ini tidak bisa dibenarkan dan jangan dibiarkan, meskipun di bawah naungan kebebasan berekspresi.

Bila sang kartunis Barat itu, memperhatikan paradigma sosialnya dalam menciptakan perdamaian dunia, maka perdamaian akan dapat terwujud bila ada saling penghormatan terhadap yang lain. Konsep solusi damai dalam Islam mampu mengayomi perbedaan antar umat manusia. Pemaknaan terhadap takwa, di samping secara individual berarti melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala yang dilarang-Nya, prinsip ini juga memberikan dorongan psikologis yang kuat untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi antar umat Islam dengan umat yang lainnya secara damai dan toleran.

Sebagai agama rahmatan lil alamin, Islam sebenarnya hadir dengan cara yang amat simpatik, ramah, santun serta tidak menyebarkan fitnah yang dapat mengakibatkan kerusuhan dan membakar amarah. Dalam penyebarannya, Islam tidak membenarkan adanya paksaan. Sebab, paksaan terhadap suatu agama hanya akan menimbulkan problem baru yang lebih berbahaya.Karena itu, dalam proses dakwah misalnya, Islam melakukan penyebaran ajarannya dengan melalui tiga fase yang sempurna. Fase pertama, bersifat mendidik dan memperbaiki individu dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan. Islam memandang nilai-nilai kodrati hak azasi manusia secara universal harus dihormati dan berlaku sama bagi semua negara dan bangsa.

Fase kedua, menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat dalam segala aspek kehidupan umat, dalam negara, antar negara dan bangsa, hukum, politik, ekonomi. Demikian juga dengan keadilan penyebaran informasi, keadilan dalam penetapan kewajiban dan hak azasi, serta dalam menegakkan keadilan sosial.

Fase ketiga, merealisasikan maslahah atau kemanfaatan bagi umat dan menolak dengan filter “rahmatan lil alamin” segala sesuatu yang menimbulkan bencana atau kerusakan. Karena itu juga Islam menghormati kebinekaan budaya berbagai bangsa dan suku bangsa di dunia dalam koridor sunatullah.

Karena itu dalam era globalisasi, umat Islam harus mampu menunjukkan bahwa mereka telah modern dan dapat menjadi rahmat serta membawa kebaikan bagi umat lainnya. Institusi pendidikan Islam atau pesantren sudah sewajarnya mengembangkan kelembagaan dan sistem organisasi yang sesuai dengan tuntutan zaman. Di samping menghadapi globalisasi, umat Islam secara normatif juga harus mampu menjaga diri dan memerangi hawa nafsu yang jika tidak terkendali akan merusak tatanan sosial kemasyarakatan. Cita-cita untuk menjadi masyarakat madani hanya akan dapat apabila umat Islam dapat merealisasikan ajaran Islam secara kaffah dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s