KH. Maman Imanulhaq Faqieh; Peduli Terhadap Budaya Lokal

Muda, energik! Itulah kira-kira yang dapat digambarkan, ketika DK berkunjung ke rumah kediaman beliau di Desa Cibolerang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Sehingga, saking kemudaannya yang masih menonjol, sepintas tidak kelihatan tokoh yang satu ini adalah kiyai. Namun, itulah KH. Maman Imanulhaq Al-Faqieh “kiyai muda” yang biasa disapa Kang Maman.

Lahir di kota Sumedang 8 Desember 1972 (34 tahun) dari keluarga religius, pasangan Drs. H.Abdurrochim dan Hj. Lalih Halimah.

Masa kecil yang dilaluinya di sebuah wilayah sejuk lereng Gunung Tampomas Cimalaka, Sumedang, dengan hamparan sawah, kicau burung, hembusan kabut pagi, wangi rerumputan serta keragaman budaya Sunda yang khas, telah menumbuhkan potensi dan bakat seninya.

Selama enam tahun menempa ilmu di Ma’had Baitul Arqom, Bandung Selatan, dengan kedisiplin belajar, berorganisasi serta keahlian berbahasa sehingga membentuk kepribadian yang progressif, toleran, serta mempunyai kualitas spiritual yang penuh.

Masa-masa “kegelisahan” ia jalani dengan lakon silaturahmi ke beberapa Ulama besar dan pesantren di Pulau Jawa, seperti Ua Khoer Afandi Manonjaya Tasikmala, Mama Bantargedang, M’bah Dullah Salam di Kajen Pati Jawa Tengah, Kyai Mudzakir Pekalongan dan Pesantren Tambak Beras Jombang Jawa Timur. Tempat-tempat karamah, pusat-pusat kebudayaan, serta terminal bus adalah tempat yang kerap ia kunjungi karena memberinya sebuah  hikmah (lesson moral)  “wajah kemanusiaan” serta “nilai ilahiyah”  yang hakiki.

Semenjak mendirikan pesantren Al-Mizan tahun 1998, ia kerap dipanggil Aa atau Kang Maman oleh para santri dan jamaah Dzikir & Muhasabahnya yang tersebar di wilayah III Cirebon, wilayah Priangan Timur, Sumedang, Brebes, dan Pekalongan. Sebuah panggilan yang mengisyaratkan sebuah kehangatan, egaliterian serta penolakan terhadap budaya feodalisme yang mewabah di kalangan pesantren.

Sekitar tahun 1998-1999, saat Reformasi bergulir, ia mulai aktif menjadi mubaligh. Bersama KH. Manarul Hidayah, Habib Riziq, Habib Idrus Jamalullail, dan para mubaligh lain, ia kerap mengisi acara pengajian di Majlis Ta’lim Hidayatullah Cirebon, Jawa Barat.

Metode ceramahnya yang renyah bermakna, humoris berbobot—yang menurutnya merupakan berkah dari Kyai-nya masa di Arqom, yakni KH Yusuf Salim Faqih. Ceramahnya yang juga diselingi syair sholawat yang ia karang serta dzikir muhasabah yang menyentuh di akhir pengajiannya, telah menyedot perhatian umat di berbagai tempat. Badan Dakwah Islam (BDI) Pertamina, PT Wika, BI adalah sebagian dari perusahaan yang sering mengundangnya.

Materi pengajiannya yang memperlihatkan pemihakan terhadap dhu’afa (the weak), dan mustadh’afin (the oppressed) kepedulian pada ranah budaya lokal, merangkul kaum pinggiran (marginal) serta mensponsori kreativitas anak-anak muda, telah menjadikannya sosok kiyai muda yang diterima semua kalangan. Karena, di samping aktif mengisi pengajian, ia-pun rajin menghadiri diskusi-diskusi di P3M Jakarta, Halaqoh Budaya, workshop, kegiatan kesenian serta dialog lintas agama dan kepercayaan.  

Tulisan-tulisan serta puisi religiusnya sering menghiasi koran dan majalah. Selama tahun 2003, dengan ALIF dan Olimpide Kebudayaan ia keliling dalam kegiatan Syukur Pesisir. Oktober 2003, menjadi pembicara dalam  Konggres Kebudayaan V di Bukittinggi Sumatra Barat. September-Oktober 2004 berkujung ke USA, sebagai peserta program Inter-religios Dialogue Ohio University. Dengan ghiroh memperjuangkan maqashid syari’at Islam, yakni menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial, kemaslahatan umat manusia, kerahmatan semesta, dan kearifan lokal, ia aktif di dalam kajian pemikiran Islam progressive di Fahmina Institute Cirebon, Akademi Entrepreneur Al-Biruni Ciwaringin Yayasan Pendidikan Seni Nusantara Jakarta dan TGI (The Grage Institute).

Sekarang, di tengah kesibukannya sebagai Ketua LD-NU serta Pengurus Jamiyyah Thaoriqoh Al-Mu’tabor An-Nahdiyyah, Bapak dari tiga anak; Fahma, Hablie, Ghaitsa, ini sedang berusaha mengembangkan Pesantren Al-Mizan, Program Out Bond (Pesantren Alam) serta mengembangkan pengajian Dzikir & Muhasabah, serta merintis Pesantren Budaya dengan Komunitas Gamelan Sholawat “Qi Buyut” sebagai maskotnya.  

9 Komentar

  1. semakin sukses ya om ..
    keep fighting
    kapan – kapan main ke bontang ya om ..
    godbless

    • pak yai…tai seneng banget bisa datang di tambakberas q klo udah besar nanti pengen jadi seperti anda………………………..

    • afwan kang udah datang di man taraz…kapan2 kesini lagfi zzzzzzzzzzz????????
      kapan bukunya sampai di man tambakberas.q dan temen 2udah g sabar ingin baca nonton.

  2. saya kagum dengan kang maman, sebab saya tahu betul beliau, waktu dipesantren saya selalu dibimbing sama beliau, ketika di Ma’had baitul Arqom Al-Islami. waktu di pesantren sudah kelihatan bahwa beliau bakal menajdi orang terkenal ( ulama besar ). salam buat kang maman, pemikirannya sangat progresif dan inofatif tidak keluar dari maqasid syariah islamiyah.

  3. pengen dong ntar klo kuliah di pondok k.maman………….
    datang lagi di taraz pak yai……
    n tetap jaya always

  4. wah,wah,,,,,,,,,
    kang maman emg hebat!!!!
    pnyampaian beliau bgtu mnarik dan mngena d hati siswa-siswi MAN TAMBAKBERAS,,,,,,,,,

  5. pak kYai kapan2 maen Lg ya, ke man taraz . . ?

  6. Kang Maman ImanulHaq teh yang bareng2 sama gusdur menolak UU penistaan agama sanes? Janten satuju atuh sama ahmadiyah?

  7. Assalamu’alaikum….
    pa kyai, simkuring ngaraos bingah gaduh senior sapertos anjen
    mudah-mudaha perjuangan kita tidak sampai di sini, Amiin


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s