UNITY IN PLURALITY

Oleh : Setiawan Djody 

Indonesia adalah negara mejemuk (plural). Terdiri dari beragam adat, etnik, agama dan kebudayaan. Kenyataan ini jelas tak terbantahkan, conditio sine qua non. Indonesia adalah negara yang sangat kaya. Bahkan, di dunia ini, tak ditemukan negara semajemuk dan sekaya Indonesia. Karena itu, keadaan ini semestinya patut dirawat dan disyukuri. Namun, nampaknya sebagian kita masih belum mampu mencerap kemajemukan ini. Tiba-tiba, pluralitas dianggap sebagai ancaman yang bisa menggoyahkan identitas dan jati diri. Mereka marasa bahwa dirinyalah yang paling benar dan harus diakui.

Karena pandangan ini banyak sudah tragedi kemanusiaan terjadi. Konflik antar agama, antar suku dan sebagainya merebak di berbagai daerah. Sudah banyak pula nyawa tak berdosa melayang. Jelas, pluralitas telah mengalami penyimpangan dan misinterpretasi pemaknaan.  Pluralitas dipakai hanya untuk meneguhkan perbedaan di antara berbagai komunitas. Ia dipakai bukan untuk menghormati dan menghargai kelompok yang lain. Tidak juga dipakai sebagai pedoman dan guidelines dalam melakukan interaksi sosial di antara komunitas beragama. Sebab, pluralitas tidak pernah benar-benar hadir dalam jiwa mereka.

Memang, harus kita akui, penghargaan pluralitas yang maujud dalam perspektif pluralisme adalah sebuah pilihan. Meski demikian, dalam konteks negara majemuk seperti Indonesia, pluralisme adalah sebuah pilihan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Karena, kenyataannya, kita adalah kesatuan dalam keragaman. Tidak ada satu dominasi kelompok tertentu atas kelompok yang lain. Hal ini jelas tercermin dalam semboyan bangsa kita ‘Bhinneka tunggal Ika’ sebagai warisan tradisi dan toleransi yang sangat berharga. Di samping juga, di mata hukum, semua komponen masyarakat berhak mendapatkan perlakuan yang sama. 

Syahdan, semenjak awal bangsa ini didirikan, pluralisme adalah pilar penegak dan penyeimbang bangsa. Pluralisme adalah ruh dan jiwa yang memberikan kehidupan bagi masyarakat kita sampai sekarang. Karena itulah sudah seharusnya pemahaman tentang pluralitas bangsa Indonesia yang kadang salah kaprah perlu dirombak ulang menuju, apa yang saya sebut sebagai, pluralisme dialogis. Dalam bingkai ini, pluralisme  selalu menganjurkan sikap yang ramah dan toleran bukan menyulut konflik dan kemarahan. Apalagi sampai rusak-rusakan. Pluralisme selalu mengedepankan penghargaan, bukan penghinaan.

Pluralisme selalu menganjurkan sikap untuk mau berdialog dengan mengedepankan akal dan nalar, bukan golok dan pedang. Dialog dalam perspektif ini harus dilakukan dari bawah bukan dari atas dengan melibatkan massa grass root sehingga transformasi pemahaman akan pluralitas berlangsung di antara mereka. Tanpa melibatkan massa grass root, dialog yang dilakukan adalah sebuah kenaifan. Karena merekalah yang selama ini menjalani kehidupan. Mereka tahu betul bagaimana merasakan perbedaan dalam keseharian. Harapannya, melalui dialog ini, muncul pemahaman untuk selalu melihat keberadaan yang lain sebagai mitra, bukan saingan. Keberadaan yang lain adalah potensi dan sumber yang sangat berharga dalam merajut tali kehidupan bersama. Mereka berjajar pada level yang setara. Sikap melihat yang lain sebagai bagian dari kita yang utuh adalah dasar menuju kehidupan yang harmonis dan kukuh.

Melalui pluralisme dialogis ini, diharapkan pluralisme palsu yang selama ini menjangkiti sebagian besar masyarakat bangsa ini segera sirna. Benih-benih pluralisme yang telah ada sebelumnya menjadi tumbuh makin kuat, bukannya sekarat. Dengan kondisi demikian, konflik antar keyakinan umat beragama mampu diminimalisir. Keberadaan kelompok lain bukan lagi menjadi ancaman kelompok lainnya. Sehingga harmoni kehidupan antar sesama bukan hanya mimpi dan mitos belaka. Dan, semoga demikian. Sebab, sejatinya, kita adalah unity in plurality, satu dalam kemajemukan. [] 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s