TERORISME, BOM, DAN PENGRUSAKAN, ISLAMIKAH?

Oleh : Tiar Anwar Bachtiar

Dalam sebuah hadis riwayat Muslim dari Abu Ya’la Syaddad ibn Aus r.a., Rasulullah bersabda, Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsân (berbuat baik) atas segala sesuatu. Maka, jika kalian membunuh baikkanlah cara membunuhnya; dan jika kalian menyembelih [binatang] baikkanlah cara menyembelihnya: hendaklah salah seorang di antara kalian mengasah alat menyembelihnya dan menenangkan binatang sembelihannya. (lihat Shahîh Muslim kitab Al-Shaid bab Al-Amr bi Ihsân Al-Dzibh wa Tahdîd Al-Syafarah hadis no. 1955). Mencermati hadis ini, kita sebenarnya sedang dibawa pada labirin ajaran Islam sesungguhnya. Hadis ini mengajarkan satu kaidah agama paling penting yang menjadi dasar bagi semua aktivitas muslim dalam berbagai hal.

Secara umum, hadis ini mengajarkan setiap muslim untuk ihsan terhadap segala sesuatu. Ihsân dalam beberapa syarah atas hadis ini diartikan sebagai “melakukan sesuatu yang sesuai syari‘at secara bijak, sempurna, dan baik” (lihat Al-Wâfî fî Syarh Al-Arba‘în Al-Nawawiyyah, cet. 2003 hal. 118). Dengan demikian setiap Muslim diperintahkan agar mengerjakan amal apapun—yang tidak bertentangan dengan syari‘at—secara bijak, sempurna, dan baik. Amal yang dikerjakan tidak hanya sekedar memenuhi ketentuan minimal (rukun dan syarat), tapi juga harus dipenuhi afdhaliyât-nya, sunat-sunat-nya, dan adab-adab-nya. Pekerjaan yang dilakukan bukan hanya sekedar memenuhi ketentuan positif fiqh, tapi juga harus memenuhi tuntutan etis akhlak.

Sekedar contoh, shalat sudah dianggap benar secara fiqh bila telah memenuhi ketentuan rukun dan syarat sahnya. Akan tetapi, belum dianggap ihsân bila shalat yang dilakukan tidak disertai dengan amalan-amalan sunat dalam shalat yang akan menyempurnakan shalat itu seperti menghadirkan kekhusyukan dengan memilih tempat yang tenang dan nyaman, menggunakan pakaian yang bersih dan harum, melaksanakannya di awal waktu, berjamaah dalam shalat wajib, dan sebagainya. Dalam puasa, haji, zakat, mu’amalah, dan sebagainya pun demikian. Ada hal-hal yang secara fiqh dianggap sah, namun secara etis belum dianggap sempurna (ihsân).

Lantas apa hubungan hadis ini dengan terorisme? Perhatikan secara saksama kelengkapan hadis setelah perintah “sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsân (berbuat baik) atas segala sesuatu”. Rasulullah mengambil contoh yang sangat tepat, yaitu masalah pembunuhan: “maka, jika kalian membunuh baikkanlah cara membunuhnya.” Mengapa yang dipilih sebagai contoh adalah pembunuhan, bukan shalat atau ritual-ritual lain? Inilah salah satu kecerdasan Rasulullah.

Secara umum, “membunuh” dalam agama, masyarakat, dan kebudayaan manapun selalu dianggap seuatu yang sadis, tidak manusiawi, dan sangat buruk. Islam sendiri mengharamkan secara tegas tindakan yang dapat menghilangkan nyawa orang lain (baca: membunuh). Namun, dalam kasus-kasus tertentu membunuh mau tidak mau harus dilakukan. Dalam Islam membunuh dalam situasi perang dan sebagai bentuk hukuman (qishash dan had) diperbolehkan. Membunuh dalam situasi ini adalah conditio sine qua none yang bila tidak dilakukan malah berakibat lebih buruk bagi kemanusiaan pada umumnya.

Dalam praktek “membunuh” yang sadis dan kejam seperti ini, Islam tetap mengajarkan agar dilakukan secara ihsân, tidak asal bunuh. Sebab pada prinsipnya, yang diinginkan oleh Islam adalah “kasih sayang” atau rahmah yang menjadi dasar diturunkannya ajaran Islam. Sebagai wujud ihsân dalam “membunuh” Islam menetapkan beberapa aturan dan adab yang tidak boleh dilanggar, antara lain harus dilakukan dengan cara yang paling tidak menyakitkan, tidak boleh membakar, tidak boleh menyiksa (menyakitkan), dan tidak boleh dilakukan secara mutilasi. Agar tidak menyakitkan Islam menganjurkan agar hukuman pancung dilakukan dengan menebas tengkuk, sekali tebas dan dengan pedang yang paling tajam. Bila ketentuan itu diterapkan hari ini, akan lebih banyak lagi cara yang dapat dilakukan agar proses “membunuh” lebih tidak menyakitkan. Banyak sekali hadis yang menjelaskan ketentuan-ketentuan dan adab-adab ini.

Praktek yang sama juga harus diterapkan pada binatang yang akan disembelih. Sama sekali dilarang dalam Islam menyiksa binatang, sekalipun binatang itu akan dikonsumsi. Prosesi penyembelihan harus dilakukan sebaik mungkin agar binatang yang akan disembelih tidak tersakiti. Alat penyembelihannya harus diasah setajam-tajamnya, tidak boleh diperlihatkan di hadapan binatang yang akan disembelih sebelum waktunya, dan binatangnya harus ditenangkan terlebih dahulu. Baru setelah itu dilakukan penyembelihan dengan cara yang paling cepat dan tepat pada aliran darahnya agar segera mati. Praktik ini dijelaskan secara khusus dalam berbagai kitab fikih berdasarkan hadis-hadis dari Rasulullah Saw.

Islam juga sama sekali tidak menghendaki kerusakan, penyiksaaan, dan penganiayaan. Sebaliknya Islam hanya menghendaki kedamaian dan rahmah (kasih sayang) bagi semesta. Sama sekali tidak ada ajaran yang membolehkan umat Islam menghancurkan kaum lain dengan cara-cara yang zhalim. Jangankan membunuh orang-orang yang tidak berdosa (yang tidak berhak dibunuh) dan merusak fasilitas-fasilitas milik orang lain yang sama sekali tidak boleh dilakukan (bahkan dalam perang sekalipun), membunuh dan menghancurkan sesuatu yang diperbolehkan secara hukum dan etika masyarakat pun tetap harus dilakukan dengan cara yang paling baik dan tidak menyakitkan.

Sangat tidak masuk akal dan mengada-ada bila Islam mengajarkan tindak terorisme dengan bom bunuh diri dalam situasi damai, bukan perang. Hatta dalam perang pun cara-cara pengrusakan dan pembakaran fasilitas umum dan orang-orang yang tidak berdosa sama sekali tidak dibenarkan. Jadi, secara teologis tidak ada alasan kuat yang dapat dijadikan sandaran untuk menghalalkan tindak-tindak terorisme seperti yang marak belakangan ini di Indonesia. Itu sama sekali bukan karakter ajaran Islam yang benar.

Kalau demikian adanya, patut dipertanyakan “keislaman” orang-orang yang ada di balik peristiwa tersebut. Apakah memang mereka banar-benar memahami Islam dengan baik? Tidak mustahil bahwa peristiwa-peristiwa itu justru dibuat oleh pihak-pihak yang anti-Islam. Tidak mustahil justru pihak-pihak asing yang tidak ingin melihat Indonesia maju sengaja menciptakan bom di mana-mana dengan mengatasnamakan Islam. Dan pion yang mereka mainkan adalah orang-orang yang punya semangat besar terhadap Islam, tapi tidak mengerti Islam dengan baik. Dalam teori konspirasi, hal-hal semcam ini kemungkinan terjadinya sangat besar. Teori ini bahkan lebih meyakinkan daripada mengkambinghitamkan ajaran Islam yang jelas-jelas tidak pernah mengajarkan praktik-praktik kekerasan semacam itu. Islam mengecamnya sebagai tindakan zhalim dan biadab. Wallâhu A‘lamu bi Al-Shawwab.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s