MENUNDUKKAN TERORISME

Oleh : Mulyadi M Phillian

Direktur Eksekutif Kantata Research Indonesia 2004-2007

Apakah aksi terorisme akan segera berakhir di bumi pertiwi? Pertanyaan ini adalah sebuah harapan kolektif warga bangsa ini. Beberapa institusi strategis seperti TNI, Polri dan BIN pasti akan memainkan peranan sangat signifikan dalam melakukan tindakan preventif agar aksi terorisme tidak terjadi lagi. Di samping desk anti teror pada semua institusi ini, beberapa institusi non-pemerintah seperti lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi keagamaan dan tokoh-tokoh masyarakat juga diharapkan dapat memberikan kontribusi agar kedamaian dan keharmonisan dapat menghiasi kebersamaan bangunan nations state kita ke depan. 

Dimensi politik terorisme

Terorisme bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan bidang lainnya. Oleh karenanya, terorisme harus dilihat dari berbagai dimensi; setidaknya dari segi politik, ekonomi dan keagamaan. Dalam konteks politik, terorisme biasanya muncul sebagai salah satu instrumen untuk mencapai tujuan yang bersifat politis. Jika kepentingan politik satu komunitas dalam suatu negara tidak terakomodir secara formal, bisa dipastikan bahwa kelompok tersebut berpotensi besar untuk melakukan perlawan terhadap rezim yang berkuasa. Perlawanan suku Kurdi di Turki, kelompok pemberontak Macan Tamil di Sri Lanka dan kelompok yang tergabung dalam ETA di Spanyol adalah contoh untuk kasus ini. Mereka berjuang dengan berbagai cara termasuk menggunakan instrumen teror.

Dimensi ekonomi

Dalam dimensi ekonomi, tindakan teror lazimnya muncul karena terjadi ketimpangan ekonomi. Kelompok yang tidak mendapatkan distribusi kesejahteraan biasanya akan berupaya untuk mendapatkan hak-hak ekonomi mereka dengan berbagai cara. Sebab, ketidakadilan ekonomi akan berimbas kepada terbatasnya kemampuan kelompok masyarakat itu untuk memenuhi kebutuhannya yang prinsipil. Karena itulah kemudian timbul semangat untuk melakukan perlawanan kepada mereka yang dianggap menimbulkan kerugian.

Berbagai kerusuhan yang terjadi di Irak, di samping aspek politik, sebenarnya juga memiliki dimensi ekonomi. Mayoritas masyarakat tidak mendapatkan penghidupan yang layak. Mereka melakukan perlawanan dengan berbagai cara, seperti bom bunuh diri, membakar pipa minyak dan sentra-sentra industri strategis lainnya.  

Dimensi keagamaan

Dimensi yang cukup menarik dalam kajian tentang terorisme adalah melihat keterkaitan terorisme dengan pemahaman keagamaan. Hal ini seringkali berkaitan dengan sabda-sabda dogmatis yang dijadikan basis legalitas untuk melakukan aksi teror. Mark Juergensmeyer dalam Terror in the Mind of God (2003) menyebutnya dengan istilah justifikasi teologis, di mana kelompok teroris menggunakan interpretasi kitab suci dalam melakukan aksi mereka. Pada tingkat ini, kesucian agama sering kali terkontaminasi oleh keterbatasan nalar dalam memahami tafsiran yang sesungguhnya. Pelaku teror misalnya mengaitkan tindakan mereka sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan prinsip-prinsip yang ada dalam ajaran agama.

Hal ini sebenarnya lebih berkaitan dengan dengan alam pikir dalam menginterpretasikan nilai yang dianut. Pemahaman agama yang sangat dogmatis dan indoktrinatif jelas akan membatasi cakrawala dalam memahami universalisme kebenaran. Kelompok teroris cenderung menafsirkan agama dengan perspektif yang sempit dan menyampaikan klaim kebenaran atas yang lainnya. Konflik berdarah antar pengikut mazhab dalam agama formal merupakan konflik yang dapat dianalisa dengan pendekatan ini.

Kelompok garis keras agama (dalam agama apa saja) cenderung melakukan klaim kebenaran atas tafsiran yang mereka anut. Dan pada saat yang sama, mereka menolak sudut pandang dan perspektif lain dalam melihat kebenaran. Padahal pluralisme penafsiran merupakan suatu yang tidak dapat dihindari, bahkan sejak zaman awal lahirnya agama-agama tersebut. Klaim terhadap tafsir kebenaran tersebut pada gilirannya hanya melahirkan tindakan anarkhis dan teror walaupun terhadap komunitas yang memiliki kedekatan genealogi keimanan.

Di samping membuat klaim atas tafsir kebenaran, kelompok garis keras lazimnya juga tidak memiliki kesiapan untuk berhadapan dengan perkembangan modernitas. Perkembangan modernitas membuat mereka teralienasi dalam peradaban global yang sedang berjalan. Peradaban yang sedang berjalan dianggap bukan menjadi bagian dari sejarah mereka. Tatanan nilai yang tidak lahir dari rahim peradaban yang mereka agungkan merupakan sesuatu yang tidak perlu dihormati dan oleh karenanya perlu ditentang dan kalau perlu dihancurkan. 

Mengakhiri teror

Mengakhiri teror tentu saja bukan pekerjaan sederhana. Diperlukan kebijakan yang komprehensif. Kebijakan preventif oleh institusi keamanan, merupakan upaya untuk mengimplementasikan tanggung jawab dalam melindungi (la responsabilité de protéger) kehidupan masyarakat banyak. Di samping itu juga harus diimbangi dengan kebijakan dalam bidang politik, ekonomi dan lain sebagainya. Dalam politik umpamanya, pemerintah dituntut untuk menciptakan tatanan politik domestik yang lebih demokratis serta melakukan transformasi pemahaman yang holistik tentang pentingnya implementasi demokrasi dalam kehidupan berbangsa.

Dalam perspektif ekonomi, pemerintah sewajarnya juga mengupayakan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kendati tidak dapat digeneralisasi, namun juga tidak dapat disangkal bahwa ketimpangan ekonomi merupakan salah satu sumber motivasi kelompok teroris dalam melakukan aksinya. Selain itu, pemerintah juga dituntut untuk terus memperjuangkan tatanan global yang lebih adil, sejahtera dan civilized.

Di samping itu, yang tak kalah penting adalah rekonstruksi pemahaman agama. Dalam konteks ini, agama harus dipahami secara luas. Sabda-sabda agama harus mampu merubah alam pikir sesuai dengan kontekstual yang terjadi hari ini. Munculnya radikalisme dalam kelompok masyarakat beragama antara lain disebabkan oleh penyampaian agama secara parsial. Indoktrinasi seperti ini jelas menimbulkan distorsi dalam memahami wahyu dan nilai suci yang diemban oleh agama itu sendiri.

Oleh karenanya, keterlibatan tokoh dan organisasi keagamaan akan memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam mengakhiri terorisme. Dalam konteks ini, doktrin terorisme harus kita lawan dengan pemahaman agama yang mengedepankan norma-norma kecintaan kepada manusia, yang menjadi inti dari ajaran agama. Bukankah manusia yang paling baik di sisi Tuhan adalah mereka yang berbuat baik dan menebarkan kasih sayang kepada sesama? Dengan cara-cara inilah kita berharap dapat menundukan gerakan terorisme di negeri ini.

*** 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s