MANHAJ DZAWI AL-NAZHAR: REPUTASI TOKOH PESANTREN DI KANCAH INTERNASIONAL

Oleh : Tiar Anwar Bachtiar

Suatu saat saya sempat berdiskusi dengan salah seorang alumni Kuliah Hadis dari Universitas Islam Madinah, sebuah universitas bereputasi internasional, terutama dalam kajian-kajian agama (turâts). Pertanyaannya sederhana, adakah ulama Indonesia yang reputasi dan karya-karyanya, terutama di bidang ilmu hadis, diakui secara internasional? Selama ini, selalu saja nama-nama berbau Arab dan Timur Tengah yang tersohor sebagai ahli di bidang hadis seperti Abdullah bin Baz. Paling-paling bergeser sedikit ke Persia (Iran, Irak), Asia Selatan (India, Pakistan), atau Asia Tengah tempat lahir ulama hadis kenamaan Imam Al-Bukhari.  

Kawan saya itu segera saja, dengan begitu bersemangat, menunjukkan satu kitab ilmu hadis dari rak perpustakaannya berjudul Manhaj Dzawai Al-Nazhar Syarh Manzhûmah ‘Ilm Al-Atsar yang ditulis oleh Muhammad Mahfuzh ibn Abdullah Al-Tirmisi. Kitab itu, katanya, dijadikan salah satu rujukan penting di Universitas Madinah dalam mata kuliah ilmu hadis. Ada beberapa penulis biografi ahli hadis yang salah mengenali Al-Tirmisi, nama belakang penulis kitab ini yang menunjukan tempat kelahirannya. Ada yang mengira Tirmis adalah nama satu tempat di India. Padahal, Tirmis adalah peng-Arab-an dari “Tremas”, nama satu kampung di Pacitan Jawa Timur, tempat kelahiran Mahfuzh, pengarang kitab ini. “Jadi, inilah salah satu kitab bereputasi internasional yang ditulis oleh ulama asal Indonesia,” tukasnya dengan nada yang sangat meyakinkan.

*** 

Mahfuzh adalah putra dari kiai Abdullah, seorang kiai terpandang di Tremas Jawa Timur. Ia dilahirkan di kota itu tanggal 12 Jumadil Ula 1258 H/1868 M, saat ayahnya tengah berada di Mekah. Mahfuz sudah hafal Al-Quran sebelum usianya beranjak dewasa. Mahfuz remaja belajar kepada ulama-ulama kenamaan di Jawa. Setelah menyelesaikan pelajaran-pelajaran agama tingkat dasar di kampungnya, dan sempat dibawa ayahnya ke Mekah, Mahfuzh belajar pada Kiai Saleh darat (1820-1903) di Semarang Jawa Tengah. Setelah beberapa tahun belajar di Semarang, tahun 1880-an, Mahfuz pergi kedua kalinya ke Mekah. Kali ini, ia lebih mengkonsentrasikan diri untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu agama secara lebih mendalam, terutama ilmu hadis.  

Sejak saat itu, Mahfuz menetap di Mekah belajar dan mengajar di sana sampai wafatnya tanggal 1 Rajab 1338/1919. Rekan-rekan sekampungnya yang berangkat ke Mekah banyak yang kembali lagi ke Jawa seperti Kiai Dimyati, adiknya, dan Kiai Khalil Bangkalan dan mengembangkan pesantren di tempat masing-masing. Mahfuzh menikah dengan putri asal Demak Jawa Tengah, Muslimah, yang menunaikan haji pada dekade pertama abad XX. Keturunan Mahfuzh kini ada yang tinggal di Tremas Pacitan mengembangkan pesantren Tremas yang didirikan ayahnya, Abdullah, dan ada juga yang di Demak, kampung sang istri. Anak Mahfuzh satu-satunya, Muhammad, mengembangkan pesantren di Demak dan memiliki banyak murid dari seluruh Nusantara. 

Sekalipun tidak pernah kembali lagi ke Jawa, hubungannya dengan ulama-ulama pesantren di Jawa sangat erat. Adiknya, Dimyati, yang terus berkomunikasi denganya, berhasil mengembangkan Pesantren Tremas hingga menjadi salah satu pesantren kenamaan di Jawa. Banyak juga ulama-ulama dari jawa yang sengaja datang ke Mekah belajar ilmu hadis padanya. Salah satunya adalah Hadhratus-Syaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama. Bahkan Hasyim meneruskan jejaknya menjadi salah seorang ulama ahli hadis di Nusantara. Tapi tentu muridnya tidak hanya datang dari Jawa. Banyak sekali muridnya yang berasal dari kawasan Asia Tenggara lain, Asia Selatan, bahkan dari Timur Tengah sendiri.

*** 

Manhaj Dzawai Al-Nazhar hanya salah satu di antara sekian banyak karya-karya Mahfuzh Al-Tirmisi yang kurang lebih—yang terlacak—mencapai dua puluh buah. Sebagian karyanya berjilid-jilid. Sebagian hanya satu jilid seperti kitab ini. Namun, semua karya Al-Tirmisi mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari para ulama di bidangnya sebagai karya-karya yang berkualitas. Tidak heran bila, berkat karya-karyanya, Al-Tirmisi dijuluki “Imam Bukhari abad XIX”. Sebuah penghargaan yang sangat wajar atas ketekunan Mahfuzh.  

Manhaj Dzawai Al-Nazhar adalah kitab kaidah ilmu hadis (ilmu musthalah hadis) yang ditulis selama 4 bulan 14 hari di Mekah. Sebagian ada juga yang ditulis di Mina dan Arafah ketika melempar jumrah dan wukuf pada musim haji. Kitab setebal 300 halaman besar (versi cet. Dâr El-Fikr Beirut tahun 1974) ditulis mahfuzh sebagai syarh (penjelasan) terhadap kitab Manzhûmah ‘Ilm Al-Atsar karya Al-Suyûthi (w. 911 H). Tulisan Al-Suyûthi sendiri berupa nazham (salah satu bentuk sya’ir Arab) yang berisi penjelasan-penjelasan tentang kaidah-kaidah ilmu musthalah hadis. Menurut Al-Shuyûthi nazham yang dibuatnya sebanyak seribu bait. Namun, dalam hitungan Al-Tirmisi ternyata masih kurang 20 bait (hanya 980 bait). Barangkali penyebutan “seribu bait” oleh Al-Suyûthi hanya pembulatan atau ada bait yang hilang saat dicatat oleh para pencatat setelah Al-Suyûthi tiada. Hanya saja, kemungkinan kedua hampir tidak mungkin setelah ditelaah bait per bait. Demikian Al-Tarmisi (Manhaj Dzawai Al-Nazhar, 1974: 302).  

Penulisan satu disiplin ilmu dengan menggunakan bait-bait sya’ir biasa dilakukan oleh banyak ulama dalam berbagai bidang. Salah satu yang sangat terkenal adalah bait-bait sya’ir Alfiyah Ibn Malik yang mengupas tata bahasa arab (Al-Nahw dan Al-Sharf). Model penulisan semacam ini, tentu saja tidak mudah dipahami oleh orang yang tidak memahami sya’ir Arab. Oleh sebab itu, syarh seperti yang dibuat oleh Al-Tirmisi sangat diperlukan. Tanpa syarh para pelajar yang tidak mengerti nazham dengan baik, tidak akan bisa memahami teks tersebut dengan baik. Ulama yang dapat memberikan syarh terhadap satu nazham menunjukkan kepakarannya yang luar biasa terhadap disiplin ilmu yang dibahasanya dan terhadap bahasa Arab yang menjadi medianya. Al-Tirmisi telah sampai pada kulitas itu dengan kitabnya ini. Oleh sebab itu, tidak berlebihan bila Yasin Al-Fadani (1917-1990) menyebutnya sebagai al-‘allâmah, al-muhaddits, al-musnid, al-faqîh, al-ushûli, dan al-muqri’. Semua sebutan itu adalah sebutan bagi seorang ulama yang telah mencapai tingkat kepakaran puncak dalam ilmu agama, terutama ilmu hadis.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s