ISLAM DALAM KONSEP PLURALITAS

 

Oleh: Fauzi “Herfanda” Somantri

Staf Yayasan Pendidikan Sosial dan Pendidikan Ponpes Arafah, Cililin-Kab. Bandung

Judul               : Pluralitas dalam Masyarakat Islam

Judul Asli        : At Ta’addudiyah Fi Mujtama’ Islamiy

Pengarang      : Gamal Al Banna

Penerjemah    : Tim MataAir Publishing

Penyunting      : Ahmad Z.H

Penerbit          : Mata Air Publishing

Cetakan Pertama, Agustus 2006

 

Revolusi ilmu pengetahuan menuju era milenium ketiga memberi arti penting dalam sejarah peradaban bangsa. Derasnya arus informasi yang kian tak terbendung melalui berbagai media telah memberi dorongan bagi ilmuwan dan peneliti untuk mengejar ketertinggalannya, baik dalam bidang teknologi maupun bidang lainnya. Hamparan sejarah masa lalu dalam penemuan dan pemikirannya sampai masa modern yang terus terhampar luas. Tak terbendung. Dalam kondisi seperti itu, keberadaan Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam mengandung berbagai pemahaman, penemuan dan pemikiran falsafah hidup yang tak pernah surut oleh perkembangan lama.

Salah satu kemukjizatan al-Qur’an adalah mampu ditafsirkan dari berbagai zaman. Alquran dapat berbicara mengenai berbagai ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin, di samping itu juga menuturkan hubungan antar masyarakat yang majemuk dan pluralitas.

Ayat-ayat al-Qur’an tentang pluralitas, seperti dalam Bab II tentang al-Qur’an dan Pluralisme, memberikan gambaran jelas yang diberikan Islam tentang keberadaan masyarakat (hal.7). Dan al-Qur’an mampu menampung  tingkat pemahaman manusia dari zaman ke zaman. Masyarakat Islam sendiri merupakan bagian dari masyarakat dunia. Artinya sebagai umat penyeimbang dan penengah, seperti yang dipaparkan dalam kata pengantar buku, yang ditulis oleh Prof. DR. Azyumarzi Azra, MA., bukan berarti meniadakan konsep pluralitas justru mempertegas kata-kata wasthiyah (tengah-tengah), hingga melampaui kata-kata ifrath (melampui batas) yang tafrith (ekstrim). Jadi, wasthiyah sendiri bukan hanya sebagai wasit seperti dalam pertandingan bola, melainkan melebur menjadi kesatuan tunggal dengan pihak lain. Dan ini tentu saja bertentangan dengan konsep kedinamisan Islam seperti yang dipaparkan Azyumarzi sendiri. Sebab akan menimbulkan pertentangan dengan keesaanNya, yang Tunggal. Namun bukan berarti harus melebur bersama tauhid yang selama ini dianut masyarakat Islam. Untuk lebih jelasnya kita bisa lihat pemaparan Gamal al Banna -adik dari seorang mujahid, Hasan al Banna, pendiri Ikhwan al Muslimin- dalam melihat perbedaan dan kesepakatan dalam masyarakat Islam (hal. 56).

Tumbuhnya pluralitas pasti ada unsur pembeda. Pembeda bukan berarti tidak menerima pendapat orang lain, masyarakat lain, golongan lain. Namun, semua perbedaan dan distingsi setiap manusia akan mendorong mereka untuk saling memahami, mengenal, dan menumbuhkan apresiasi dan respek antara satu dengan yang lainnya. Untuk membangun kebajikan sosial, masyarakat Islam tidak membedakan warna kulit, kedudukan dan tingkat status sosial, melainkan pada tingkat ketaqwaannya (QS.al-Hujarat:49). Dengan demikian perbedaan, antar manusia seharusnya mendatangkan rahmat, bukan menghasilkan tindak kekerasaan atau anarki. Seperti yang tercantum dalam teologi kerukunan yang nampak dalam sejarah Nabi Muhammad SAW ketika hijrah dari Mekah ke Madinah pada 622 M.

 

Masyarakat Islam

Dalam prinsip hidup bermasyarakat Islam telah menghadirkan pola-pola dasarnya melalui ajaran al-Qur’an, lalu diikuti oleh petunjuk para nabi. Masyarakat Islam berbeda dengan masyarakat lainnya dalam martabat dan ketaqwaan. Tidak lebih dari itu.  Islam is Progress seperti yang digambarkan Bung Karno; bergerak terus, maju, berevolusi dan dinamis. Bung Karno ingin sekali menangkap Islam sebagai ‘api’ bukan ‘abu’, apalagi Islam ‘sontoloyo’. Islam sebagai pembaharu (mujaddid) yang tidak hanya melakukan pembenaran dalam tindakannya melainkan juga dalam segenap aktifitasnya (lihat tulisan al Kindi dalam Ranah Filsafat). Pengertian tersebut bisa kita lihat dalam tulisan al-Farabi dan Ibnu  Sina. (hal. 49).

Pandangan Gammal sesungguhnya menginginkan setiap kebebasan bisa diterima. Namun, dalam masyarakat Islam setiap pluralisme tidak berbeda dengan pandangan non Islam. Kecuali sebatas “seberapa” banyak, dan bukan pada “jenis” atau “bagaimana”. Karena sesungguhnya mengimami pada sebuah nilai-nilai Islam yang tertanam kuat akan menghalangi lahirnya kondisi yang tak terkendali dan Masyarakat Islam  bagaimanapun merupakan bagian masyarakat global, akan tetapi ia memiliki karakter khusus yaitu ketaqwaan dan derajatnya melalui al Quran sebagai petunjuknya dan Muhammad sebagai contoh tauladannya. Aspek ketauhidan ini pun harus seirama dengan kamajuan zaman sesuai dengan pemahaman al-Qur’an itu sendiri.

Buku ini, jika membaca sekilas ada sedikit kontradiktif bagi sebagian orang. Angin segar yang hembuskan Gammal al Banna ini seolah-oleh hanya sekedar lewat saja. Padahal dibalik semua itu, Gammal menginginkan terciptanya suatu masyarakat yang menerima berbagai perbedaan, memiliki hak yang sama, tanpa harus anarkis, karena masyarakat umum adalah masyarakat Islam juga -bukan negara namun umat/masyarakat, tanpa harus melebur menjadi tunggal karena itu akan mendongkrak keesaanNya. Yang Diinginkan Gamal adalah tidak serta merta melebur dengan ketauhidan yang selama ini masyarakat Islam anut. Kita sama dalam permukaan atau pandangan umum tentang hak dan kewajiban dalam mengembang pluralisme. Namun, dalam kandungan misi dan visi yang esensial, masyarakat Islam harus mempunyai karakter yang berbeda.

2 Komentar

  1. gimana saya mendapatkan buku ini, saya di jogja tapi belum mendapatkan di toko2.
    apa bisa pesan melalui pos?
    mohon info

  2. Mohon maaf, mas Anam, kami tidak melayani pemesanan buku. Mungkin terdapat di toko-toko buku sekitar kampus UIN Yogyakarta. Terima kasih.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s