Spritualisasi Kehidupan Manusia Era Digital

Oleh : Moch. Sirojuddin A. Al-Darda 

“Dari masa kejayaan dan kehancuran, kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran”. (QS. Ali Imran [3] : 40) 

Era digital telah menciptakan dan melahirkan kemajuan yang sangat luar biasa di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Perubahan yang luar biasa drastis terjadi di hampir semua sektor. Terjadi Quantum Leap atau lompatan waktu yang sangat luar biasa dan mengagumkan, khususnya di bidang teknologi.

Era digital, dimulai semenjak ditemukannya bilangan biner, yaitu angka nol dan satu. Bilangan biner tidak mengenal angka lain, kecuali angka nol dan satu saja. Bilangan biner ini telah mengubah suatu zaman.Begitu pula yang terjadi dengan manusia, bilangan biner akan melahirkan pula peradaban manusia yang sangat tinggi, yaitu manusia digital. Manusia digital adalah manusia yang hanya mengenal angka nol dan satu dalam prinsip manusia.

Angka nol adalah lambang kesucian hati dan pikiran, sedangkan angka satu adalah lambang Tuhan, atau hanya berprinsip kepada Dia Yang Maha Kuasa. Atau dengan kata lain Laa (0) Ilaha Illallah (1). Inilah yang dinamakan era digital manusia, yaitu suatu era saat manusia menjadi tulus dan ikhlas (0), karena berprinsip pada Allah (1) dan tidak menuhankan yang lainnya (0) sehingga seluruh potensinya (00) muncul!

Pada saat manusia menempatkan dirinya pada posisi zero paradigm, maka jati diri yang penuh potensi dan selama ini tertutupi oleh berbagai belenggu itu akan muncul, sehingga memungkinkan bagi cahaya ilahi untuk memancarkan sinarnya kembali. Cahaya ilahi itu berupa sinar keadilan, kebersamaan, kedamaian dan kasih sayang, yang didamba oleh seluruh insan manusia.

Tetapi apa yang terjadi saat ini? Masyarakat mempergunakan teknologi digital hanya pada bidang teknologi atau IPTEK saja, sedangkan mental pangguna teknologinya (manusia) terbelakang. Sehingga wajar kalau terjadi kepincangan. Misalnya, mereka (manusia) telah berhasil menciptakan laptop, handphone, e-mail, yang kesemuanya merupakan hasil teknologi digital yang merupakan ciptaan dari konsep bilangan biner nol atau satu. Namun, banyak dari mereka yang justru mengalami stress, gangguan jiwa, serta timbulnya tindakan kejahatan lainnya. Mengapa? Karena munculnya digital itu hanya baru perlengkapan (piranti-nya) saja, belum menyentuh aspek mentalnya.

Namun, banyak orang yang kurang atau bahkan tidak menyadari sama sekali, kalau sebenarnya suara hati Ilahiah yang terletak pada God Spot sudah tertutup oleh belenggu. Sehingga yang terjadi adalah tindakan atau perhitungan rasional yang secara tak sadar sebenarnya sudah diperintah oleh persepsi-persepsi yang berwarna hitam kelam (hawa nafsu dan syahwat). Akibatnya segala tindakan yang dilakukan berada di luar orbit. Secara intelektual dan emosional tampaknya memang tidak bermasalah, namun secara nurani atau spiritual pastilah bermasalah. Ini semua terjadi akibatnya adanya cover yang mengotori God spot, sehingga mengakibatkan tertutupnya mata hari spiritual (penyakit spiritual patalogies)Al-hasil manusia tidak terlepas dari keilmuan atau Intellectual Quation (IQ), Akhlak Karimah atau Emotional Quation (EQ), Kekuatan Ruhiyah atau Ruhiyyah Quation (RQ), dan kekuatan Tauhid atau Spiritual Quation (SQ).Pada dasarnya manusia harus mampu menciptakan “New Level Thinking” atau suatu pola pemikiran yang sama sekali baru (approach) atau pendekatan paradigma to spirituality.

 Jadikanlah Allah satu-satunya sebagai pegangan hidup!Jadilah Allah sebagai tujuan (ghoyah) hidup!Ingatlah, bahwa Anda adalah wakil Allah, maka wakililah sifat-sifat mulia dan milik-Nya!Tanamkan kalimah tauhid “laa ilaha ilallah” dalam lubuk hati Anda yang terdalam!Cintailah Allah di atas segala-galanya!Mulailah segala akitivitas Anda dengan mengucapkan kalimah basmalah!Ingatlah, bahwa Allah itu dekat dengan Anda, jadi berhati-hatilah dalam setiap tindakan Anda! 

“Apabila engkau mengenal siapa dirimu, maka akan mengenal siapa Tuhanmu”. (Al-Hadits). 

Penulis adalah Student Islamic Centre pesantren Miftahul Huda II, Bayasari, Ciamis, Jawa Barat, dan peserta Daurah Kebudayaan Darussalam Ciamis Jawa Barat, pada tahun 2004

1 Komentar

  1. roj ! karya lu bae juga.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s