Reproduksi Ulama Di Era Globalisasi

 

Arus globalisasi telah mewarnai ke dalam ranah kehidupan manusia. Sehingga telah mempengaruhi cara pandang hidup umat manusia. Mulai dari life style (gaya hidup), mode berpakaian, sikap sampai pada tingkat beragama. Sehingga globalisasi yang awal mulanya diperkenalkan oleh Theodore Lavitte tahun 1985 telah berubah menjadi sosok berkekuatan yang menyeramkan. Walaupun di sisi lain pesatnya ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi telah membawa dampak positif yang cukup besar bagi peradaban umat manusia di dunia.

 

“Globalisasi menjadi kekuatan yang terus meningkat, dan dapat menimbulkan aksi dan reaksi dalam kehidupan. Globalisasi melahirkan dunia yang terbuka untuk saling berhubungan, terutama dengan ditopang teknologi informasi yang sedemikian canggih. Topangan teknologi informasi ini pada gilirannya dapat mengubah segi-segi kehidupan, baik kehidupan materiel maupun kehidupan spiritual.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini di satu sisi memberikan kemudahan hidup bagi umat manusia, tetapi di sisi lain dapat menimbulkan berbagai perubahan, di antaranya pergeseran nilai.” (hal : 45)

 

Artinya, bahwa sampai saat ini tak seorang pun dapat berpikir dan menghindar dari sergapan globalisasi. Tak terkecuali Islam. Sebagai agama universal, Islam dituntut untuk dapat merespon tantangan globalisasi dunia yang sebagian besar banyak dipengaruhi oleh ide-ide kapitalisme Barat. Sekaligus diharapkan dapat memfilter budaya-budaya asing yang datang bersamanya.

Pesantren (dengan berbagai macam karakter) sebagai minitaur Islam lahir untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang Islam secara menyeluruh. Baik melalui peran pendidikan, dakwah, sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya.

Terlebih-kemudian bagaimana peran kiyai dengan kharisma yang dimiliknya, sekaligus sebagai pewaris para nabi, yang notabene merupakan bagian integral dari lahirnya dunia pesantren diharapkan mampu menjadi corong-pengabdi kepada umat.

 

“Kiyai adalah kekuatan penentu dalam pendidikan di dalam pondok pesantren tradisional. Kiyai memerankan peran sebagai penjaga tradisi, penyebar agama dan sekaligus pencetak ulama lewat lembaga yang ia pimpin”. (hal : 268-269)

 

Khususnya di era globalisasi ini, para pimpinan pesantren harus mempu mereproduksi kembali peran ulama yang hampir kehilangan kharismanya, baik di hadapan para santri maupun masyarakat umum.

Nah, untuk itu perlu kiranya sebuah wawasan mendalam, bagaimana seharusnya ulama bertindak upaya mempertahankan tradisi kepesantrenan sekaligus dapat berperan aktif di dunia penuh kompetitif ini.

Buku “Reproduksi Ulama di Era Globalisasi; Resistensi Tradisional Islam” yang ditulis oleh Dr. H. Muhtarom H.M, dan diterbitkan penerbit Pustaka Pelajar, setidaknya dapat memberikan gambaran kepada kaum pesantren khususnya, dan masyarakat umumnya, bagaimana peran dan kiprah para kiyai seharusnya.

Dengan mengambil sample penelitan dua pesantren tradisional yaitu pondok Pesantren Raudlatul Ulum dan Bustanul Wildan (kedua-duanya di kabupaten Pati, Jawa Tengah). Setidaknya buku ini memberikan gambaran, bagaimana kiprah pesantren tradisional dalam lika-liku globalisasi yang semakin tak terkendali. Khususnya peran kiyai sebagai mediator masyarakat harus dapat mempertahankan tradisinya.

Selain itu harapan besar dari buku ini adalah bagaimana di era globalisasi ini pesantren yang ada khususnya pesantren tradisional dapat terus melahirkan kader-kader ulama yang dapat berperan serta komitmen terhadap pencerdasan umat. Apalagi kiyai yang mempunyai peran sebagai role models (model peran) bagi santrinya harus mampu-dengan pesantren yang didirikannnya-menjadi bagian wadah reproduksi ulama di  masa yang akan datang.

Maka keniscayaan kalau reproduksi itu merupakan sebuah proses-yang pola-pola struktur sosial (termasuk pandangan keagamaan) dipertahankan dan dilanjutkan dari generasi ke generasi. Untuk itu, “reproduksi di pondok pesantren tradisional tidak dapat dilepaskan dari citra kiyai sebagai model peran tadi”. (hal : 271)

Sehingga dengan demikian, bahwa peran ulama di era globalisasi ini, selain sebagai orang yang pandai terhadap ilmu agama, juga dapat beperan dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

 

 

Judul Buku:

Reproduksi Ulama Di Era Globalisasi;

Resistensi Tradisional Islam

Penulis:

Dr. H. Muhtarom H. M.

Pengantar:

Prof. H. Abdurrahman Mas’ud M. A., Ph.D.

Ukuran:

15 x 24 cm

Tebal:

xvi + 318 Hal

Tahun Terbit:

Cetakan I, Juli 2005

Penerbit:

Pustaka Pelajar

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s