Pesantren; Dimodernkan Tanpa Kehilangan Akarnya

Kyai yang lebih akrab dipanggil Pak Ud ini selalu terlihat ramah dan sederhana, namun terlihat dari sorot matanya beliau memiliki pengalaman dan nalar pikiran yang luas, sehingga penampilannya sangat kharismatik.

KH. M. Yusuf Hasyim lahir 77 tahun yang lalu, beliau adalah putera bungsu dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Lahir di Jombang 3 Agustus 1929, dan mulai tahun 1965 sampai sekarang beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Jombang Jawa Timur.

Selain berdarah NU, beliau pun dikenal sebagai sosok kyai yang dengan pemahaman ideologis dan kemampuan organisatorisnya selalu mempunyai cita-cita kejayaan dan kemajuan ummat Islam. Beliau juga pernah aktif dibeberapa lembaga baik pemerintah maupun non pemerintah diantaranya; anggota DPR/RI, Dewan Pakar ICMI, anggota DPA kabinet reformasi dan lain-lain. Jabatan politik terakhir yang dipegangnya adalah sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Umat (PKU).Dengan kelembutannya beliau menjawab setiap pertanyaan yang disampaikan oleh reporter DK. Terutama mengenai perkembangan pesantren ke depan yang saat ini sedang menghadapi tantangan global.Pak Ud merupakan salah seorang yang sangat khawatir jika pesantren akan kehilangan peran indegenousnya, apalagi dengan isu-isu saat ini yang sangat memojokkan citra pesantren. Berikut wawancara kami dengan Pak Ud; 

Bagaimana perkembangan pesantren saat ini, terutama pesantren Tebuireng sendiri?

Sebenarnya bukan hanya pondok pesantren, semua lembaga-lembaga keagamaan baik islam, kristen, dan lainnya memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang. Jika ada koordinasi  yang bagus itu bisa maju, kecuali kalau pada sisi lain ada potensi atau konflik internal, kalau tidak memiliki manajemen konflik, itu bisa menghancurkan dirinya sendiri. Contohnya Musthafawiah di Sumatera Utara, terus di Lombok.  

Bagaimana pengaruh konflik itu terhadap pesantren?

Itu terbagi, tapi selama terjadi persaingan yang sehat, itu tidak menjadi masalah. Tapi di Lombok itu sampai terjadi jatuh korban. Karena itu dalam berbagai kesempatan saya selalu mengatakan kepada masyarakat, termasuk kepada pengurus disini. Banyak sekali contoh pesantren yang mengalami maju mundur, bahkah di beberapa temat bekasnya saja sudah tidak ada. Itu karena konflik antar keluarga. Di Tebuireng tidak pernah terjadi karena di sini memiliki kesatuan, sehingga tidak terjadi hal seperti itu. 

Berkaitan dengan tantangan zaman, bagaimana kiprah pesantren ke depan?

Pada para sesepuh pesantren saya pernah memberikan bekal bahwa “kita tidak boleh merasa cukup dengan apa yang telah kita punya, tapi kita harus mencari yang baru dengan yang lebih baik”. Artinya, kita tidak boleh meninggalkan hal-hal baik walaupun sudah lama. Kalau itu dijabarkan dan diimplementasikan dengan bagus, insya Allah. Tapi sebaliknya, kalau kita terus terjebak konflik kemungkinan akan terjadi hal-hal fatal yang tidak diinginkan. Dan itu akan terjadi, termasuk di Tebuireng ini. Misalnya, pesantren di Solo, dulu merupakan pesantren yang bagus dan hebat, tapi sekarang lain, tinggal SMA atau aliyahnya saja. 

Banyak para tokoh juga khawatir terhadap perkembangan zaman bahwa jika nanti pesantren itu dimodernkan akan menghilangkan akar pesantren itu sendiri. Bagaimana menurut Anda?

Bisa dimodernkan tetapi tanpa mencabut akar-akarnya, apapun perkembangan kemajuan yang sedang terjadi. Beberapa pengajaran kitab tradisional juga tidak boleh ditinggalkan oleh pesantren. 

Bagaimana menurut Anda, peran kiyai sekarang harus seperti apa?

Harus memiliki  syarat-syarat organisasi, leadership, training, kontrol, manajemen, dan seterusnya. Dan sebaiknya nasibnya tidak tergantung ke soal uang saja. Ada sebagian pesantren antara keuangan pesantren dan keuangan pribadi itu tidak dipisahkan. Itu gampang sekali menimbulkan fitnah. Oleh karena itu di sini kami bersikap terbuka. 

Terus bagimana dengan pola keterbukaan seperti yang tadi diungkapkan, menurut Anda  apakah dapat menurunkan kharismatik ke-kyai-annya sendiri atau bagaimana?

Tidak! Justru dengan keterbukaan kita semakin dekat dengan santri, tidak ada kesan menjaga jarak. Dan dengan komunikasi akan semakin mendekatkan dengan mereka. Jadi, tidak ada alasan kharisma kyai akan berkurang. Kharisma itu yang wajar sajalah. Sebab kharisma itu bisa diciptakan, bisa direkayasa.  

Lantas bagaimana dengan kemajuan santri sendiri, apakah dia perlu berorgainsasi? Lantas organiasi yang ada di Tebuireng untuk para santrinya, apa saja?

Pertama sekolah, ada kegiatan jam’iyah kelas, jam’iyah kompleks, jam’iyah daerah, di mana secara berkala tiap malam Selasa atau malam Jum’at itu mengadakan program seperti pidato. Dan ada juga yang aktif di eksternal seperti IPNU, IPPNU dan lain-lain. Dan mereka welcome sekali dengan kegiatan itu. Saya juga kadang mengundang Kodim atau kepolisian pada malam Jumat untuk mengikuti kegiatan itu. Bagaimana mereka yang nyantri di sekolah itu memiliki kemandirian-kemandirian termasuk ngritik. Saya mengatakan kamu bisa melakukan kritik terhadap pimpinan. Yang dilarang di sini cuma satu nggak boleh ngotot 

Demokratis sekali ya? 

Dan ini hasilnya sangat baik, selain memberi mereka pelajaran untuk dapat berperan di masyarakat, juga untuk menambah pengalaman bagaimana sesungguhnya kehidupan di masyarakat.  

Kalau di media, Anda  sangat keras apalagi yang berkaitan dengan komunis, apakah ini bagian dari perjuangan atau pemikiran Anda?

Ini adalah bagian dari perjuangan. Waktu kita menolak kurikulum 2004, beberapa pihak seperti Menko Kesra dan sebagainya itu tidak setuju. Tapi, kalau kurikulum 2004 itu dibiarkan maka satu generasi bahkan generasi selanjutnya itu bisa habis. Sehingga ada pribahasa “untuk membunuh 100 orang dibutuhkan peluru dengan jumlah yang sama. Tetapi untuk mematikan umat Islam itu bisa dengan kurikulumnya saja”.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s