Memaknai Ayat Makkiyah dan Madaniyah

Oleh : Setiawan Djody 

Islam adalah agama sempurna yang diturunkan dari langit kemuliaan sebagai pedoman hidup universal. Perubahan yang dibawa Islam bukanlah perubahan radikal. Islam membawa perubahan gradual dan mengedepankan nilai-nilai kedamaian. Turunnya Alquran dalam dua fase; Makkiyah dan Madaniah memiliki filosofi yang amat dalam. Pada fase Makkiyah, ayat-ayat suci tersebut lebih menekankan spirit teologis (tauhid), serta aturan-aturan normatif dan spirit moralitas. Ayat-ayat Makkiyah misalnya menekangkan bagaimana pentingnya peng-Esaan Tuhan sebagai sumber spirit ruhaniah. Gambaran tentang alam semesta, bumi, langit, lautan, gunung, sungai dan daratan, awan, angin, hujan dan lain sebagainya menunjukkan ke-Agungan dan ke-Esaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sedangkan pada fase Madaniyah ayat-ayat Alquran lebih menekankan bagaimana bangunan tatanan sosial dan hukum. Masalah muamalah seperti jual beli, ekonomi, dan perniagaan ditata sedemikian rupa dengan tujuan untuk memperkuat masyarakat. Dan pada tingkat selanjutnya Alquran menekankan tentang penegakan hukum, kepemimpinan, tatanan sosial lainnya sebagai upaya untuk membangun dasar-dasar ketatanegaraan yang kuat. Hasil dari penghayatan terhadap perubahan gradual seperti yang dituntunkan oleh ayat-ayat suci tersebut terlihat beberapa dekade kemudian. Masyarakat Madinah yang lahir dari spirit tersebut menjadi prototype masyarakat yang berkeadaban maju ketika komunitas lain berada dalam kegelapan jahiliyah. Kondisi seperti ini tentu saja merupakan produk dari proses pendidikan yang dilakukan di “pesantren nabawi”. Walaupun pada zaman itu belum dikenal apa yang kita sebut pesantren sekarang, akan tetapi hasil dari internalisasi unsur-unsur teologis (tauhid) mampu mendorong terwujudnya masyarakat yang kuat, baik secara ekonomi, politik dan tatanan sosial. Pendidikan seperti ini tentu saja memiliki modalitas yang tidak sederhana. Pesantren nabawi jelas menjadi engine perubahan yang didasarkan kepada spirit-spirit tauhid dan norma-norma kemuliaan.

            Pesantren pada hari ini sudah sewajarnya mampu mengaktualisasikan fase-fase sejarah turunnya kitab suci sesuai dengan konteks kekinian. Artinya bahwa sebagai institusi pendidikan, pesantren sewajarnya berperan secara optimal dalam membentuk karakter bangsa hari ini. Sebab, kecendrungan masa depan globalisasi yang sulit ditebak tentu saja memerlukan SDM yang berkualitas tinggi, baik dalam konteks ilmu pengetahuan dan tekhnologi maupun dalam konteks skill life.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s