PESANTREN ANGKOT DI PERBUKITAN SUMEDANG

Sarongge merupakan daerah pedesaan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Dekat dengan Sarongge adalah daerah cagar budaya tradisional Rancakalong. Adat-istiadat karuhun masih dipegang teguh. Mistisisme pun masih mendapat lahan subur di sini. Letak Sarongge yang dekat dengan Rancakalong mau tak mau mempunyai pengaruh tersendiri. Oleh karena itu, walaupun masyarakat Sarongge yang hampir 100% adalah Muslim, namun adat-istiadat karuhun setempat masih mendominasi prilaku keagamaan mereka. Aspek syari’at Islam cenderung terabaikan. Yang muncul dan mendapat tempat di hati penduduk justru dunia mistik yang rentan dengan nilai-nilai ke-musyrik-an.

Itulah Sarongge jaman baheula. Sekarang keadaannya cukup berbeda. Fenomena  Sarongge kontemporer adalah daerah dengan penduduk yang mulai mengerti, memahami dan sedikit-demi-sedikit mengamalkan ajaran syari’at Islam. Jilbab sudah bukan barang aneh lagi bagi para pemudi Muslimah. Para pemudanya sudah mulai meninggalkan dunia pelet—suatu alat/media untuk mempengaruhi kesadaran wanita dan membuatnya jatuh-cinta secara tidak normal. Pengajian-pengajian semakin marak. Dengan sendirinya, kualitas dan kuantitas keagamaan masyarakat Sarongge pun meningkat.

Kehadiran Pesantren

Salah satu aspek yang berperan mengubah keadaan tersebut adalah kehadiran sebuah pesantren. Karena didirikan di Sarongge, pesantren inipun dikenal dengan nama Pesantren Sarongge. Yang berjasa mendirikan pesantren tersebut adalah H. Dayat, seorang pengusaha sekaligus aktivis pergerakan Islam. Menurut Pak Haji, demikian ia biasa dipanggil, melihat keadaan Sarongge yang masih terbelakang dalam ajaran keislaman, ia sangat berhasrat untuk mendirikan pesantren. Karena, baginya, keterbelakangan masyarakat tersebut disebabkan ketidaktahunan mereka. Asumsinya, apabila ada lembaga pendidikan yang memberikan pengetahuan Islam yang seluas-luasnya, tentu akan bisa membuat suatu perubahan sosial di Sarongge.

Akhirnya pada tahun 1996, pembangunan pesantren pun dimulai di atas tanah wakaf seluas satu hektar. Menurut Pak Haji, yang mula-mula dibangun ialah satu lokal asrama, satu lokal mesjid, satu lokal kantor, dan tiga lokal kelas untuk proses kegiatan belajar-mengajar. Pada waktu itu, yang menjadi Mudir al’Am (pimpinan pesantren) adalah KH Maman Mulyana, seorang alumnus Pesantren Modern Gontor, Ponorogo (kini, ustadz Deni Saeful Buchori—pen.). Sementara santri-santrinya adalah anak-anak masyarakat sekitar Sarongge. Tahun pertama (1997), yang mula-mula ditampung adalah santri Tazhijiyah (persiapan satu tahun). Kemudian secara bertahap jenjang Tsanawiyyah pun diadakan. Kini, setelah hampir satu dekade, Pesantren Sarongge telah berhasil mengadakan proses KBM sampai tingkat Mu’allimin (Aliyah).

Usaha Pesantren

Lalu, bagaimana dengan masalah operasional Pesantren Sarongge? Tak bisa dipungkiri, bahwa kegiatan pendidikan itu menuntut sejumlah besar pengeluaran keuangan. Dan biasanya, pihak pengelola pendidikan membebankan sebagian besar operasionalnya itu dari para muridnya. Ada berbagai macam cara untuk itu. Salah satunya adalah dengan menetapkan berbagai macam iuran-iuran yang wajib ditebus oleh para murid. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan manajemen Pesantren Sarongge. Walaupun pesantren ini dikelola dengan sistem yang modern, baik dalam pengeloloaan administrasi maupun sistem klasikal yang dipergunakan, namun dalam masalah keuangan cenderung fleksibel dan tidak memberatkan santri.

Menurut Ustadah Nani, salah seorang staf keuangan, santri memang dipungut iuran, tetapi dalam jumlah yang cukup murah. Iuran asrama yang sekarang, misalnya, tiap santri hanya dipungut uang sewa sebesar Rp.10.000,-/bulan, sedangkan iuran SPP sebesar Rp.20.000,-/bulan untuk tingkat tsanawiyyah dan 25.000,-/bulan untuk mu`alimin. Suatu jumlah yang pada dasarnya normal-normal saja. Dalam praktiknya pun, pihak pengelola pesantren sangat toleran dalam menerapkan manajemen keuangan pesantren. Bagi santri yang berasal dari kalangan keluarga tidak mampu diperbolehkan membayar iuran SPP hanya setengahnya, bahkan ada beberapa santri yang sama sekali tidak dipungut bayaran. Uniknya, bagi kalangan mustad`afin itu, jangankan bayaran iuran, justru si santrinya yang malah disumbang pakaian seragam oleh pesantren!Bila sumber pendapatan finansial bukan dari santrinya, lalu dari mana? Ternyata, selain karena ada donatur tetap, di antaranya H. Dayat dan Pak Elim, pihak manajemen pesantren pun cukup kreatif. Menurut Ustadz Muhammad Shogir, salah satu sumber input bagi pesantren adalah dari hasil perdagangan yang dikelola koperasi pesantren. Yang didagangkan bukan hanya bebutuhan pokok dan jajanan anak-anak, melainkan juga dari sumber daya alam yang terdapat di Sarongge. Yakni keberadaan sumber mata air yang cukup besar. Tiap tahun, biasanya masyarakat di luar Sarongge berdatangan ke pesantren untuk membeli air. Pendapatannya bisa mencapai Rp.3000.000,-. Dari hasil koperasi yang tetap itu sendiri adalah Rp.150.000-200.000,-/bulan. Pemasukan yang lebih dari sekedar lumayan.Uniknya lagi, Pesantren Sarongge mempunyai kendaraan umum beroda empat yang dibisniskan. Yakni berupa angkutan kota (angkot) dengan trayek jurusan Tanjungsari-Rancakalong-Sumedang. Ceritanya, masih menurut Ustadz Muhammad Shogir, Pak Haji yang merupakan pendiri pesantren itu adalah juga seorang pengusaha angkot. Nah, salah satu angkotnya tersebut diwakafkan pada pesantren. Sebuah wakaf produktif karena bisa menghaslkan input finansial bulanan ke pesantren dengan jumlah yang tidak sedikit. Berdasarkan keterangan Bu Nani, penghasilan bersih dari angkot tersebut bisa mencapai Rp. 300.000-350.000,-. Untuk ukuran awal tahun 90-an, jumlah tersebut terbilang cukup besar.

Dari usaha mandiri pesantren tersebut, Ustadz Muhammad Shogir menjelaskan, masing-masing punya posnya. Dari koperasi, misalnya, diperuntukkan terutama bagi operasionalisasi pendidikan. Sedangkan penghasilan dari angkot terutama diorientasikan untuk pembangunan fisik pesantren. Oleh karena itu, secara bertahap Pesantren Sarongge berhasil menambah lokal-lokal pesantren. Apabila kini Pesantren Sarongge mempunyai fasilitas sebuah gedung kantor yang cukup mewah, enam lokal kelas, tiga lokal asrama, masjid, perpustakaan, dan tempat olahraga, maka salah satu kontribusinya adalah karena jasa angkot pesantren! Wallahu A’lam.

1 Komentar

  1. Subhanallah..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s