Memotret Ekonomi Pesantren Di Pedesaan

Kali ini DK akan mengajak pembaca untuk berkunjung ke salah satu pesantren alumni peserta Daurah Kebudayaan I. Pesantren Miftahul Huda. Pesantren yang merupakan cabang ke 448 dari pesantren Miftahul Huda Al-Faqih, Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat ini memang cukup unik untuk disimak. Terletak sekitar 6 kilo meter dari kaki gunung Papandayan, tepatnya di Kampung Pasir Pogor, Desa Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Untuk bisa sampai ke pesantren Miftahul Huda memang cukup sulit, selain harus menampuh jarak yang cukup jauh, juga memerlukan energi yang besar. Menyusuri kaki gunung Papandayan yang berkelok, namun sangat elok dengan pemandangan pesawahan, ladang serta perbukitan. Akhirnya DK sampai juga ke tempat yang di tuju.

Di tengah-tengah pesawahan dan pemukiman penduduk yang tidak terlalu padat, disitulah Pesantren Miftahul Huda telah berdiri sejak tahun 1989.

Kini pesantren Miftahul Huda memiliki santri 100 orang putra-putri, dan telah mempunyai alumni sekitar 1.400 santri yang telah disebar ke berbagai daerah. Dengan ciri khas salaf, Miftahul Huda Cisurupan, terus mencoba berkiprah, baik dalam bidang dakwah, pendidikan, serta ekonomi. Sesuai dengan visi dan misinya “mencetak kaderisasi muslim yang berakhlaq, juga memahami berbagai wawasan disiplin ilmu sehingga mampu hidup mandir”, pesantren Miftahul Huda bercita-cita ingin membentuk “pesantren terpadu”. “Jadi, bukan hanya sekolah saja yang terpadu, tapi bagaimana ke depan pesantren pun harus terpadu”. Jelas H. Oop Zainal Musthafa, pimpinan pondok.

Selanjutnya, dengan ditemani ustadz Undang, salah seorang dewan asatidz yang sangat dihormati, DK pun diajak berkeliling ke seputar pondok pesantren yang sebagian besar pesawahan milik pesantren dan masyarakat sekitar yang sedang ditumbuhi tanaman tomat, kol, jeruk, padi dan lain-lain. Sambil menikmati buah jeruk khas Garut, DK pun ngobrol-ngobrol seputar keberadaan pesantren, mulai dari keberadaan pendidikan pesantren sampai pada tahap ekonomi pesantren yang tidak kalah pentingnya dari bidang lain.

Sebagaimana lazimnya pesantren-pesantren lain, bahwa tonggak—stabilitas perkembangan sebuah lembaga pendidikan pesantren adalah terciptanya stabilitas ekonomi pesantren yang memadai. Sehingga nantinya kemandirian baik sarana maupun prasarana dengan sendirinya akan tercipta, tanpa mengharapkan uluran tangan donatur baik pemerintah maupun swasta.

Pesantren Miftahul Huda Cisurupan, Garut, walaupun kemampuan ekonomi pesantrennya belum stabil seperti pesantren-pesantren besar, tapi dari segi sumber daya alam cukup potensi untuk dikembangkan. perikanan, pertanian, peternakan domba, dan perkebunan jeruk yang luasnya sekitar 1,5 hektar. Dan dengan modal inilah Miftahul Huda mencoba mandiri. Seperti penuturan pimpinan ponpes H. Aceng Oop Zainal Musthafa bahwa “pesantren Miftahul Huda yang sekarang ini sedang mengembangkan peternakan, perikanan dan pertanian. Karena selain areal yang sebagian besar sawah dan ladang, cuaca di daerah kami yang dingin, juga sangat cocok untuk ketiga aspek tersebut”.

Walaupun hasilnya belum bisa memberikan kontribusi besar bagi masyarakat sekitar, tapi paling tidak hasil dari sayuran yang dikelola oleh santri sendiri bisa dibilang cukup untuk menghidupi keperluan santri maupun asatidz.

Ketika ditanya soal bantuan yang pernah diberikan Kantata, pesantren Miftahul Huda telah berusaha semaksimal mungkin mengelola dan mengembangkannya. “Namun, karena ada beberapa faktor penghambat, bantuan yang asalnya bebek, sekarang kami alihkan menjadi ternak ikan dan kambing”, tambah Ceng Oop kepada DK, panjang lebar. (die)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s